KOTBAH


Pdp Joshua Sudarsono: Prinsip Pendampingan

Pdp. Yosua Sudarsono 
Ibadah Siang, 23 Januari 2011
Bacaan Firman Tuhan: Habakuk 3:17


Kalau kita mau bicara tentang waktu, maka suka atau tidak suka, mau tidak mau waktu akan terus berjalan  dan tidak pernah kembali. Waktu itu sangat singkat. Kalau waktu itu kekal, maka kita tidak akan kuatir akan waktu, tapi yang terjadi adalah waktu itu sangat singkat. Kita harus ingat bahwa Tuhan akan datang sebagai hakim, yang akan menghakimi semua perbuatan kita. Melalui gembala sidang kita, Pdt. Ir. Niko, kita diminta untuk mulai lebih intim dengan Tuhan. Karena waktu itu begitu singkat, tanpa kita sadari bahwa sekarang ini, misalnya begitu banyak game-game on line, yang membuat kita lupa akan waktu.

Tidak ada sesuatu yang dibangun dengan waktu yang sangat singkat. Seperti juga dengan pernikahan. Pernikahan itu butuh untuk disegarkan, butuh untuk saling dikuatkan. Oleh sebab itu, saya menyarankan agar bapak/ibu  mau ikut HMC. Bagi saya, pernikahan dan keluarga, adalah suatu mukjizat dari Tuhan.
 
Oleh sebab itu, mari kita menjaga keluarga dan pernikahan kita dengan baik. Banyak orang yang berkata, bahwa keluarga akan menjadi semakin bahagia dengan lahirnya seorang anak, tapi bagi saya, lahirnya seorang anak, itu adalah tanggung jawab dan sukacita. 
 
Mungkin ada banyak hal yang bisa membuat keluarga kita menjadi timpang, contohnya sakit penyakit, keuangan, dll. Tapi kita harus tahu 1 hal, ketika kita berjalan bersama Tuhan, maka segala sesuatu akan Tuhan berikan jalan keluarnya. Mungkin ketika kita mendengar tentang visi Tuhan melalui gembala kita, bahwa tahun ini adalah tahun multiplikasi dan promosi, tanpa kita sadari kita menjadi pesimis akan segala perkataan Tuhan ini. Punya masalah dalam keuangan adalah satu hal, tapi ketika kita kuatir dan takut, maka kita mulai meragukan Tuhan dan meragukan diri kita sendiri.
 
Habakuk 3:17-18 mengajarkan kita bahwa sekalipun segala sesuatunya tidak seperti yang kita harapkan, namun ia tetap percaya kepada Tuhan. Habakuk punya cara pandang yang berbeda mengenai Tuhan sehingga tetap bisa bersyukur kepadaNya.
 
Ada kisah tentang Hebert Brown yang lahir tanpa telinga dan seorang Mongoloid. Ternyata setelah diselidiki, ibunya ternyata sering memakan obat penenang Thalidomide sewaktu mengandung. Hal inilah yang menyebabkan kecacatan pada dirinya. Jika kita tidak mengetahui alasan penyebabnya, mungkin kita akan menyalahkan Tuhan. Tetapi sebenarnya hal tersebut adalah akibat kesalahan manusia. Oleh karena itu, janganlah kita sering menyalahkan Tuhan atas situasi tidak enak yang kita hadapi.
 
Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup kita. Kita harus menyiraminya terus menerus, sehingga rencana tersebut bertumbuh menjadi kenyataan dalam hidup kita.
Seorang Lena Maria dilahirkan cacat, dan bisa dikatakan hidupnya susah. Tetapi Tuhan tetap memiliki potensi dan rencana dalam hidup Lena Maria. Orang tua Lena Maria menerima dirinya apa adanya, tanpa mempermaalahkan kecacatannya. Kita juga harus menjadi pendamping bagi orang-orang yang Tuhan tempatkan di dalam hidup kita.
 
Bagaimana kita bisa mulai menjadi pendamping bagi orang lain ? Ada 3 hal yang harus kita pahami :
  • Repurposing (Tujuan): Kita harus memiliki tujuan di dalam Tuhan.
  • Repositioning (Posisi): Kita harus memposisikan diri kita dengan benar di hadapan Tuhan.
  • Rebuilding (Membangun): Mulailah kita bangun diri kita sendiri. Tidak ada yang instant, tetapi kita harus bangun hari demi hari dan sedikit demi sedikit.


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter