KOTBAH


Pdt. Samuel Gunawan: Kasih

Ibadah siang, 16 Desember 2011

I Korintus 13:1-13 kasih seringkali di samakan dengan kekristenan. Kasih adalah bahasa yang paling tinggi kedudukannya dibandingkan dengan bahasa yang lain. Kasih adalah hal yang paling utama dibandingkan dengan hal yang lain. Kasih itu adalah sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 

1. Kasih itu sabar.
Sabar itu  tidak cepat marah, sabar dalam menanti dan sabar dalam mengampuni. 
Pada dasarnya setiap manusia bukanlah pribadi yang sabar. Ketika pasangan kita berbuat salah, maka sebagai pasangan kita harus memberi pengampunan. Berapa banyakkah ketabahan yang harus kita lakukan ketika kita memberi pengampunan? Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus dan jawabannya adalah 70 kali 7 kali. Sebagai orang tua terhadap anak kita, sebagai pasangan terhadap pasangan kita seringkali kita tidak tahan terhadap segala penderitaan dan tidak sabar. Nehemia 9:17 dari firman ini, kita bisa melihat yang bisa melakukan kesabaran, tidak cepat marah dan mengampuni hanyalah Tuhan. 

2. Kasih itu murah hati. 
ketika ada yang terluka di jalan, kita sebagai manusia kadang-kadang takut untuk memberikan pertolongan. Kenapa? Karena dari kecil, kita sudah terbiasa untuk diajarkan untuk melakukan segala sesuatu untuk diri sendiri. 

3. Kasih itu tidak cemburu
Cemburu disini lebih mempunyai arti ke iri hati. Sebagai manusia, apakah kita mempunyai kecemburuan / iri hati kepada teman kita? pastinya iya. Hal ini bukan hanya berlaku kepada teman kita tapi juga sesama hamba Tuhan. 

Kasih itu bukan suatu kata dan bukan suatu sifat tapi kasih itu suatu pribadi dan itu adalah Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, kasih itu lebih tinggi dari segalanya, bahkan lebih tinggi dari nubuatan, perkataan, iman dan martir. 

I Korintus 13:7 dalam firman Tuhan ini, kata segala sesuatu diucapkan 4 kali dan hal ini berarti adalah totalitas. Wujud sesungguhnya dari kata kasih itu adalah pasangan suami istri. Ketika kita sudah menikah, siapakah yang kita cinta? Apakah diri kita atau pasangan kita? ciri kalau kita mencintai pasangan kita adalah seberapa banyak kita berkorban untuk pasangan kita? seberapa banyak kita menerima pasangan kita dan menutupi segala kesalahan pasangan kita. apakah kita bisa menerima segala kelemahan pasangan kita? kalau kita memiliki kasih Tuhan, maka kita akan bisa menerima segala kekurangan pasangan kita dan bukan hanya kelebihan dia. Tuhan bisa menerima kita apa adanya, bahkan Tuhan tidak bisa menolak keberadaan pribadinya yang ada dalam diri kita. 

Kejadian 3:7-8 ketika Adam dan Hawa sadar bahwa mereka berbuat salah, mereka mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka. Ketika Tuhan Yesus datang, Tuhan Yesus mencari Adam, dan Tuhan berkata bagaimana engkau tahu bahwa engkau telanjang, berbuat salah dan berdosa?? Lalu Tuhan Yesus mengambil seekor binatang dari taman Eden, dan membuat pakaian untuk mereka. Dari hal ini Tuhan ingin memberitahukan kepada kita, bahwa dosa tidak bisa dihapuskan hanya dari sehelai daun pohon ara tapi harus melalui pengorbanan dalam bentuk darah. Tuhan Yesus membuat baju untuk Adam dan Hawa dan hanya Tuhan Yesus yang paling tahu setiap ukuran tubuh kita, dan Tuhan mengenakannya kepada Adam dan Hawa. Hal ini berarti Tuhan menutupi segala sesuatu dengan kasih. 

Sebagai orang tua, ketika anak kita berbuat salah, kita menjadi tidak sabar, bahkan kadang kita berkata kepada anak kita : sebagai anak kalian belum memberikan apa-apa kepada saya sebagai orang tua, kenapa sekarang kalian kok berani kurang ajar? Tuhan saja yang sudah marah kepada Adam, berusaha menutupi segala kesalahan Adam dengan bertanya kepada Adam dan mengenakan pakaian kepada Adam, seharusnya kita sebagai orang tua juga harus memiliki kasih yang demikian kepada anak kita. 

Saya ingin membagikan sebuah cerita yang diangkat dari sebuah novel. Ada seorang mucikari yang sedang mencari anak-anak gadis untuk dijadikan pelacur di tempat dia. Suatu saat mucikari ini bertemu dengan seorang gadis yang bernama A dan si A ini dijadikan pelacur ditempat dia bekerja. Karena lama bergaul dengan si A, mucikari ini memiliki belas kasihan kepada si A, dan mucikari ini pun beritikad baik dengan mengangkat si A ini menjadi anak angkatnya bahkan mucikari ini berniat mencarikan pasangan untuk si A. Setelah menemukan si A, mucikari ini ingin agar si A ini menikah dengan pria yang sudah ditemukan oleh mucikari. Sehari sebelum pernikahannya, mucikari ini berbicara dengan si A, dan mucikari ini ingin agar si A mengucapkan kata-kata seperti yang akan di ucapkan oleh mucikari ini. Pertama si A adalah si A dan bukan yang lainnya. Si A bisa mengucapkan hal ini dengan mudah dan lancar. Yang kedua si A adalah perempuan baik-baik. Si A tidak bisa mengatakan hal ini, karena si A sadar bahwa dia bukanlah perempuan baik-baik. Lalu mucikari ini berkata kepada si A, bahwa si A ini harus berkata dan percaya bahwa dia adalah perempuan baik-baik. Dan setelah di yakinkan akan hal ini, si A menjadi yakin bahwa dia adalah perempuan baik-baik. 

Hal ini juga berlaku kepada kita, kalau bukan Tuhan yang berkata kepada kita bahwa kita adalah orang yang baik-baik, maka kita sebenarnya bukanlah orang yang baik-baik. Tapi karena Tuhan yang berkata kepada kita, bahwa kita adalah orang yang baik-baik, maka kita adalah orang yang baik-baik. Jadi kita harus menaruh dalam hati kita dan percaya bahwa kita adalah orang yang baik-baik. 


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter