KOTBAH


Pdt Boas Braga: Gereja Yang Mempesona

Ibadah 1, 15 Januari 2012

Memakai minyak wangi membuat menarik. Pagi ini saya ingin mengajak bagaimana bapak-ibu sebagai pribadi yang mempesona dalam hidup kita, bukan hanya institusi gereja. apakah kita sebagai pemusik, sebagai apa saja di dalam Kristus sudah mengeluarkan bau yang harum ? Sebagai gereja yang mempesona di akhir zaman seharusnya gereja sudah mempesona sejak Tuhan Yesus menebus dosa kita.

Saya mengunjungi sahabat saya dari kampung yang dirawat di rumah sakit selama 3 bulan. Saya mendoalannya dan mendukung dana. di bulan kedua ia memanggil saya karena ingin mempercayai Tuhan Yesus setelah ia menderita paru-paru bocor. Istrinya dibaptis di Jakarta. Di rumah sakit ada orang berilmu yang memaksa dia untuk mendoakannya. Tetapi ia menolak paket jimat-jimat dari kampung halamannya. Dokter berkata kepada dia bahwa ia mengalami mujizat.

Tumbuh sel-sel baru di jantung, paru-paru dan matanya. padahal tadinya matanya sudah pecah. Gereja yang mempesona bicara tentang kuasa Tuhan bagi gerejaNya. Pengurapan bukan bicara tentang badan bergoncang-goncang, berteriak histeris atau berbahasa Roh. Menurut David Odeho pengurapan berarti pemberdayaan ilahi, pemberdayaan sorgawi, masuk lebih dalam lagi bersama Roh Kudus. Bukan sekedar baptisan Roh Kudus, air mata kita membual-bual. Tuhan Yesus dipabtis Yohanes, ia mengalami baptisan Roh Kudus. Tetapi setelah ia dibawa oleh Roh Kudus ke padang-padang gurun baru ia membuat perbuatan-perbuatan ajaib. Pemberdayaan Roh Kudus membuat kita menjadi orang yang berbeda. Kata-katanya begitu berotoritas, berwibawa dan berkuasa. Pengurapan bisa lewat impartasi, penumpangan tangan, doa puasa, merenungkan firman, dekat dengan orang yang diurapi. 1 Yoh 2:7.  Waktu Roh Kudus tinggal dalam kita, terjadi manifestasi Roh Kudus dalam hidup kita. Kadang kita tidak mengerti kapan itu terjadi. Yoshua ditumpangi tangan oleh Musa menjadi pemimpin yang berotoritas. elisa statusnya dinaikkan oleh Tuhan dan diakui oleh para nabi sekitarnya. Para rasul memberitakan injil dengan dahsyat. Pengurapan yang membuat gereja menjadi menarik.

Arti pengurapan adalah melepaskan kuasa. Mazmur 45 : 9 : Segala pakaianmu berbau mur, gaharu dan cendana. Segala bisnis kita, apa saja yang kita sentuh diberkati Tuhan. Gereja menarik petobat-petobat baru yaitu ornag yang sungguh-sungguh baru bertobat. Kami baru mengadakan KKR selama 3 hari di mall.

Di Atrium . Hari kedua kami adakan ibadah berbagi kasih bagi orang-orang yang tidak mampu, orang-orang yang terabaikan. Ada sekolah madrasah Auliyah yang mau datang 450 anak-anak dan 450 orang dewasa. Hadiah kami hanya 1400 buah. Orang-orang bersorban datang. Semuanya sekitar 4000 orang. Sehingga kami akhirnya memberikan souvenir natal untuk mereka. Ada orang-orang yang tidak mengenai orang yang didoakan dan rebah. Saya bosan dengan ibadah Natal yang hanya berguna bagi diri kita. Saya meu membuat sesuatu yang berbeda. Aspek jasmani, rohani dan sosial. Seperti Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang. Aspek sosialnya Tuhan Yesus selalu diikuti orang banyak. Hari ketiga natal umum di gereja sekali, di mall sekali. Ada sekita 1000 orang datang. Intinya kita melakukan sesuatu yang berbeda. Ada seorang ibu-ibu berjilbab yang bertanya pada mertua saya apakah pengobatan masih ada. Setelah ia didoakan, ia menjadi sembuh lalu cepat-cepat keluar.

Pengurapan memberi kita keberanian memberitakan nama Tuhan. Buatlah hal-hal yang ajaib dan besar yang melibatkan banyak orang terlibat melayani. Semangat menjalar. Tetapi kekecewaan juga menjalar. Gereja seharusnya membuat orang-orang tertarik. Natal kita tahun lalu budgetnya hanya 25 juta, dan itu susah sekali.

Tetapi tahun ini 10 kali lipatnya bisa karena kami bergerak dengan pengurapan Tuhan, ada apinya Tuhan. Orang yang tahun lalu hanya jemaat, tahun ini difungsikan dalam pelayanan. Mulanya kami hanya membagi 7000 mug ketika paskah. Datangnya ide ini dari saya sebagai pemimpin.

Semua jemaat ikut terlibat. Itu membuat roh kita menyela-nyala bagi Tuhan. Orang suka dilibatkan. Bukan harga mugnya. Tapi kegiatan itu mempersatukan kami. Kami berpuasa bersama. Ada seorang bapak yang bercerai membagikan mug. Tadinya ia merasa tidak layak, tapi sekarang setelah ia ikut membagikan mug ia diberkati Tuhan sehingga tidak perlu pulang pagi lagi. Omzetnya naik 200%. Ia tidak lagi perlu mengentertain orang supaya omzetnya naik. Setiap minggu ke-4 kami ada minggu berbagi kasih. Kami mengubah kebaktian UMAS menjadi kebaktian berbagi kasih.

Kebaktian ini bagi orang yang tidak mampu. Jumlahnya terus bertambah sampai 350 jiwa. Ketika Natal berkumpul 1000 jiwa. sampai hari ini kami tetap melakukannya. Memberi bingkisan 35 ribu rupiah, memberi makanan. Jemaat ikut menyumbang makanan. Ibadah raya setiap hari sabtu.

Jemaatnya berasal dari berbagi kasih. Kami suka memberi makanan, sepatu, kaos kaki pada madrasah Auliyah. Sehingga ada hubungan dan Pak Kyai menijinkan murid-muridnya mengikuti ibadah Natal. Pengurapan membawa kita ke level-level baru, harum mempesona. Semua yang kita lakukan dikenal orang. Seperti acara di Atrium membuat yang menjual makanan naik omzetnya 100 persen. Efek-efek yang kita lakukan dikenal orang. Gereja harus bergerak bersama-sama. Kami membagi makanan bagi 500 orang. Kita harus buat sesuatu yang ornag lain belum buat. Efek pengurapan harus dibawa ke efek sosial. Seperti Tuhan Yesus. Kita harus melihat melampaui yang dapat kita lihat secara fisik.

Orang yang sukses adalah orang yang tidak gengsi melakukan apa saja. Orang yang tidak suka mengeluh. Orang yang suka mengeluh, didengar oleh setan bukan Tuhan. Seharusnya kita mengucap syukur, bukan mengeluh. Pengurapan membuat kita menjadi mengerti. Seperti Petrus ketika menyembuhkan orang sakit di bait Allah, ia berkata apa yang ada padaku kuberikan padamu. Berarti pengurapan itu sudah terinstall di dalam diri Petrus. Jika kita diurapi Tuhan laut dan sungai pun menyingkir melihat kita. Inilah waktunya gereja diurapi oleh Tuhan yaitu setiap kita orang percaya. Ayub 42 : 9 : Tuhan berkata Ayub hiasi dirimu dengan keluhuran, keagungan, kemegahan dan semarak.

Ada jemaat yang mengajak saya mendoakan orang sakit di Kota Bumi bahkan lebih jauh. Saya bertanya apakah mereka percaya pada Tuhan Yesus. Suami dan anaknya rebah waktu didoakan. Istrinya yang sakit kanker berkata percaya, saya bilang bangunlah. Maka ia bangun dan sembuh. Beriman artinya mengambil apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita, bukan memaksa Tuhan turun. Kadang kita salah berdoa dan melakukan hal-hal yang sia-sia. Kidung Agung 1: 2-3. Gereja yang mempesona harus hidup dalam kasih. Karena kasih juga melepaskan kuasa dari Tuhan. Kita tidak bisa memegahkan kasih yang kita perbuat karena tidak berarti dibandingkan kasih Tuhan kepada kita. Saya pernah BBM ada sahabat saya yang mau datang. Siapa yang mau menyediakan tempat menginap buat dia. Jawaban mereka berbeda-beda. Akhirnya saya bilang Tuhan Yesus yang mau datang. 

Di Jepang ada pasangan yang berpacaran. Laki-laki itu sedang mencuci foto. Sang wanita ikut dan entah kenapa matanya kena cairan hingga buta.mereka bertanya siapa yang mau datang ? Saya bilang Tuhan Yesus yang mau datang. Laki-laki itu suka balapan motor. Sang laki-laki itu mau mendonorkan kedua matanya untuk sang wanita. Setelah balapan terakhir, ia memberikan motornya untuk teman-temannya. Kemudian laki-laki itu kabur. Sampai suatu saat sang wanita menuntun orang buta yang ternyata adalah laki-laki itu. Lebih lagi Tuhan mau memberikan Tuhan Yesus bagi kita selagi kita masih berdosa. Coba kita renungkan kalau kita ada di penjara, terhukum mati, sudah mati selagi di penjara tetapi ada orang yang mau menggantikan kita. Seperti itulah Tuhan Yesus.

Gereja yang hidup dalam kasih tidak hidup untuk mementingkan diri sendiri. Gereja akhir zaman adalah gereja yang penuh cinta kasih, yang memanifestasikan kasih Tuhan berlimpah-limpah. Gereja yang berani dan tidak sungkan-sungkan berbuat kebaikan untuk orang lain.


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter