KOTBAH

Pdt Timotius Adi Tan: Smart Parenting (Bagian 2)
Ibadah Pasutri, 28 Januari 2012
Walaupun kita bukan ahli jiwa kita bisa tahu potensi anak kita. Ada seorang anak jurusan Accounting yang sedih karena salah jurusan. Mengapa bisa demikian ? Karena mereka terbawa oleh teman-teman SMA mereka.
Sebenarnya orang tua bisa belajar. Betapa hebatnya kalau anak kita sejak muda tahu Tuhan mau pakai dia sebagai apa. Kita bawa anak itu kepada teman-teman kita yang kuat di bidang itu. Setiap pagi anak teman saya dibacakan firman Tuhan, diencourage. Anak itu menjadi hebat luar biasa. Orang tua otaknya sudah lambat. Seharusnya kalau gereja ini ingin mengalami kebangunan rohani, gunakan dana terbesar untuk membimbing anak-anak. Apa yang harus kita lakukan ? Fokus On the Strength and Manage The Weakness. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Ada anak yang sangat ceria dan pintar berbincang-bincang. Sebaliknya ada anak yang pendiam tetapi sangat teliti. Setiap anak unik dan spesial. Kita harus fokus pada kekuatan anak kita dan kelemahannya hanya dimanage. Kalau kuat di hitungan jangan didorong jadi marketing. Setiap anak itu unik dan biarkan ia berkembang sesuai dengan potensinya. Dalam buku ini ada tes temperamen. Kita harus tahu kuatnya di mana. Fasilitasi, eksplore bakat anak sebaik mungkin.
Siapakah di dunia ini yang diakui sebagai seorang pakar di bidang Leadership ? Papanya bernama Maxwell. Sejak berumur 7 tahun papanya tahu anak ini akan menjadi hamba Tuhan. Setiap ada KKR anak ini dibawa papanya. Ia berkata perhatikan cara khotbah orang itu. Anak itu diajak berjabat tangan dengan setiap pengkhotbah KKR. Anak ini menjadi Joshie Maxwell, seorang pengkhotbah terkenal. Anak saya Henry berkata ia tidak mau kuliah karena ia lihat yang punya kampung daun, Pak Ronny bisa sukses jadi pengusaha hanya lulusan STM. Anak saya suka baca buku Bong Tjandra, masihmuda sudah punya aset milyaran. Kalau Tuhan berkenan saya ingin anak saya kuliah di Amerika, jurusan bisnis. Karakter anak kita juga harus ditanamkan.
Betapa pun hebatnya kalau tidak punya karakter semua kharisma akan menjadi hancur. Murid belajar tekun, bilang terima kasih pada pembantu, belajar hal-hal yang mendasar. Orang tua yang harus mengajarkan. Karakter sangat sulit diajarkan. Jadi harus didoakan, diteladani dalam hidup keluarga.
Karena itu karakter tidak dapat diajarkan di kelas, melainkan ditularkan melalui teladan hidup.
Ada 5 hal yang diajarkan oleh Joshie Maxwell seperti yang diajarkan oleh ayahnya :
1. Citra diri : setiap minggu diberi nilai. Contoh: anak saya Henri minder karena punya tahi lalat yang besar di tubuhnya. Tapi saya jelaskan kalau rasa berharga kita bukan karena penampilan fisik kita, tapi karena Tuhan Yesus membuat kita berharga. Diajarkan kebenaran, citra diri. Karena orang yang citra dirinya negatif tidak mungkin bisa sukses.
2. Ajarkan anak tanggungjawab. Setiap anak selesai bermain disuruh beresin. Anak-anak berumur 10, 15 tahun diberi tanggung jawab atas uang jajannya. Lihat di perusahaan-perusahaan siapa yang menduduki posisi penting? Orang yang bertanggung jawab.
3. Ajarkan anak bersosialisasi. Jangan di kamar saja. Biarkan anak menjawab kalau orang lain bertanya padanya.
4. Ajarkan sopan santun. Kalau bangun pagi saya ajarkan anak-anak bilang selamat pagi mama papa. Kalau makan diajarkan mendahulukan orang tua. Anak sekarang banyak yang kurang ajar karena kurang diajar. Seharusnya bilang terima kasih kalau dikasih uang oleh orang tua. Orang pintar kalau menyebalkan orang tidak suka.
5. Ajar anak bermental positif, berkata-kata positif. Jangan bersungut-sungut dan selalu membuat alasan. Dilatih untuk positif dalam hidupnya. Yang terakhir dibawa dalam perjumpaan dengan Kristus. Itu adalah tugas mama papanya, bukan guru sekolah minggunya atau pendetanya.
Disiplin dimulai sejak anak mulai membuka mata. Anak bayi menangis jangan langsung digendong. Kita bisa mengatur kapan kita mengempok-ngempok dia. Disiplin dimulai sejak anak membuka mata. Kalau bayi menangis jangan langsung digendong. Atur waktu kapan kita mengempok-ngempoknya.
Disiplin bukan berarti pukulan, bisa berupa hukuman. Kapan kita mendispilin anak ? Pada saat anak kurang ajar. Misalnya banyak tamu anaknya loncat-loncat dan pipis harus kita beri tahu. Kalau ia tidak mau mendengar cubit pinggulnya. Semasih anak ceria biarkan ia bahagia. Kalau anak kurang ajar berarti kurang diajar. Kalau anak-anak berguling-guling menangis karena ingin dibelikan sesuatu di mall jangan dituruti. Itu sangat kurang ajar. Kalau dibiarkan ia akan terbiasa minta dituruti sampai menikah. Kalau ekonomi suaminya sedang turun dan ia menginginkan sesuatu tidak dituruti, ia bisa jual diri. Dan katakan kalau diulangi akan ditinggal. Biasanya istri kalu sudah punya anak sibuk dengan anak-anak sampai suaminya sendiri. Kadang juga suami lebih sibuk dengan anak-anak sampai lupa istrinya. Kita harus lebih sayang pasangan kita daripada anak kita karena suatu saat anak-anak akan meninggalkan kita. Ada saatnya berdua, tinggalkan anak-anak. anak-anak akan sangat bahagia daripada melihat papa mamanya bercerai. Ada saatnya kita titipkan anak-anak pada mertua. Harus lebih sayang pada pasangan. Kalau diterapkan anak kita akan luar biasa. Siapa yang pegang keuangan?
Yang lebih bisa mengontrol keuangan. Siapa yang harus cerita kepada anak? Sebaiknya suami tapi kalau suaminya tidak pintar bicara, istri boleh menerangkan. Kalau nilainya bagus boleh diberi hadiah. Kuncinya orang tua harus berkorban. Orang tua harus belajar. Banyak orang tua ingin anaknya sukses tapi tidak mau cape. Kalau anak menjawab ketika diberi tahu justru itu anak hebat. Anak yang kritis adalah anak yang pintar. Anak-anak Indonesia jadi bodoh karena tidak berani presentasi. Coba adakan lomba pidato di sekolah minggu. Kita harus bijaksana membedakan hobi anak itu hanya hobi atau akan dijadikan mata pencaharian dalam hidupnya. Di dalam buku ini ada 9 jenis kecerdasan. Sebenarnya anak sejak dini sudah bisa ditest apakah minatnya. Nanti ketika kuliah sudah sangat tajam. Saya lebih senang bekerja dengan people. Saya lebih suka konseling, training,encourage, dsb. Saya tidak akan amabil khotbah di bidang yang saya tidak kuasai. Jadilah terbaik di bidangnya. Jangan rata-rata. Engga ada superman. Jadi super team. Kenapa aku bisa buat 20 buku? Caranya aku fokus pada kekuatan. Lalu aku ngomong , direkam, Weni yang ketik. Aku kuat di lobbying orang.
Tajamin kekuatan kita masing-masing. Tubuh Kristus itu saling melengkapi. tugas orang tua adalah memaksimalkan potensi anak kita. Anak umur 1 - 7 tahun pengajarannya harus kongkrit Authority. A,B,C,D, dst. Lebih banyak menunjukkan arah. 7 - 12 tahun lebih banyak kepada dialog. Kita jelaskan, kita encourage, ada diskusinya. 12 tahun ke atas seperti sahabat, lebih banyak dialognya. 17 tahun ke atas lebih banyak experience.
Anak harus mengalami experience. Contohnya anak saya saya suruh merokok, ternyata dia tidak suka dan tidak mau melakukannya lagi. Tapi tidak semua hal seperti itu, hanya soal-soal tertentu. Masa anak-anak adalah masa bermain, harus gembira. Jangan dipaksakan les ini, les itu nanti dia boring. Coba mana les yang paling menyenangkan buat dia. Jangan paksakan obsesi kita pada anak. Kita harus datang pada Tuhan bertanya apa rencana Tuhan dalam hidup anak kita.
Jangan memaksa. Saya percaya kalau kita menerapkan kebenaran firman, anak-anak kita akan menjadi anak yang unggul, mempermuliakan nama Tuhan.
Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter