KOTBAH


Pdt Trivena: Tuhan Adalah Kekuatan Dalam Hidupku

Ibadah 2, 20 Mei 2012

Shalom, selamat siang. Senang sekali melihat anda semua sehat. Saya tahu hari-hari ini tidak mudah kita lewati. Pagi ini saya naik taxi karena sopir saya harus menjaga bapaknya di rumah sakit. Tiba-tiba sopir taxi bertanya pada saya bagaimana bu ? Saya mau bilang yes, yes, yes, dahsyat nanti dia bingung. Saya bilang apanya ? Lalu mulailah ia mengeluh, mengkritisi bangsa ini. Sebetulnya orang –orang di luar Kristen juga mengkritisi bangsa ini dan merasa tidak nyaman. Kita melihat tawuran, bentrokkan, ornag saling bunuh, dsb. Orang ini saja yang di luar Tuhan Yesus berkata bahwa yang memampukan ia bisa eksis karena iman kepada Tuhannya.

Bagaimana dengan kita anak-anak Tuhan ? Anak-anak Tuhan juga tidak terluput dari persoalan. Semakin kita setia, semakin besar tekanannya. Semakin kita sungguh-sunggguh bersama Tuhan, makin besar tantangannya, makin berat hidup yang kita jalani. Tapi kita percaya Dia akan memberi kekuatan dan jalan keluar bagi kita. Kita tidak bisa bergantung pada harta kita, kekuatan kita rapuh. Anak-anak muda masih kuat. Tapi kalau sudah 40 tahunan, mudah lelah. Kalau saya diajak jalan sama anak saya yang masih remaja,16 tahun dan yang kuliah, saya dikatain lama jalannya. Saya jalan santai saja sama suami saya. Anak saya tidak tahu sudah sampai di mana. Kita harus akui kekuatan kita semakin merosot. Tetapi iman kita harus makin teguh di dalam Tuhan.

Yesaya 40: 31 : tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan ridak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan Rasul Paulus berkata segala perkara dapat kutanggung bersama Yesus Tuhan. Tidak ada persoalan yang tidak bisa ditolong oleh Tuhan. Persoalan besar pun sanggup Tuhan tolong. Mari kita jadikan Tuhan sebagai penolong dalam hidup kita. Ketika masalah terjadi dalam hidup kita, kita tidak menjadi lemah, tetapi semakin kuat dan makin kuat.

Rahasianya adalah yang pertama kita lihat Matius 11: 28 – 30 : Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan. Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan , Tuhan mengundang saudara yang sudah lelah dengan masalah untuk datang kepadaNya.

Yang pertama tujuan undangan itu adalah kita bagi beban kita dengan Tuhan. Saya percaya hari-hari ini istri-istri harus jadi teman share bagi suami. Mungkin mereka habis diomelin atasannya. Kalau malam hari, bapak-bapak bisa langsung tidur. Tapi istri sampai jam 11 malam, masih mikirin biaya, anak, bersih-bersih rumah. Kalau saya ke daerah, saya bikin retreat 3 hari, 2 malam di Puncak. Ibu-ibu biasanya tidak mau ikut karena kesibukan dan suaminya. Biasanya saya telponin bapak-bapak. Mereka jawab repot, siapa yang urusin keluarga, terlalu lama, dsb. Karena sifatnya formal harus di luar kota, supaya tidak terganggu. Bapak-bapak bilang saya kalau rapat jangan jauh-jauh, repot. Para suami lupa kalau mengurus rumah tangga adalah pekerjaan istrinya seumur hidupnya. Makanya para suami harus jadi teman sharing bagi istrinya. Padahal urusan rumah dikontrol terus sama istri-istri dari Puncak. Suaminya hanya membelikan makanan cepat saji, dan mengatakan tidak tahu bagaimana rumah tanpa istrinya.

Ada orang mau menikah hanya karena butuh teman sharing. Kadang-kadang orang hidup butuh teman sharing. Saya bertemu kakek-kakek, nenek-nenek, tidak tahu bicara apa, yang penting mereka hanya ingin bercerita, butuh teman sharing. Banyak anak muda meninggalkan orang tuanya di rumah dengan uang. Sebetulnya mereka ingin diajak bicara, tapi disuruh diam sama anaknya, mereka juga takut bilang karena takut tidak diberi uang belanja. Manusia butuh sharing.

Yang ke-2 maksud Tuhan Yesus mengundang kita Mari kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat adalah yang pertama : kita belajar dari yang berpengalaman. Tuhan katakan pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu. Banyak orang menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatan dan hikmatnya sendiri. Alkitab berkata terkutuklah orang yang berharap pada manusia.

Yang ke-2 Tuhan ingin beban kita dibagi rata. Tuhan tidak ingin menambah beban kita, justru mengajak kita membagi beban denganNya. Untuk menyelesaikan persooalan yang sulit, yang rasanya mustahil kita selesaikan, sakit penyakit, itu bagiannya Tuhan. Lembu-lembu di tanah Israel biasanya menggunakan lembu senior dan yang lebih muda. Itu semacam ketetapan supaya melatih lembu-lembu muda dari lembu yang berpengalaman. Dengan adanya kuk, lembu muda tidak dapat lebih cepat, lembu tua tidak dapat lebih lambat jalannya. Bebannya dibagi rata. Artinya mereka berjalan dengan beban yang dibagi rata. Setiap masalah yang Tuhan ijinkan terjadi kita percaya Allah turut bekerja di dalamnya.

Ada orang yang terlambat janjian dengan temannya. Ia janji mau pergi bareng temannya naik pesawat terbang Sukhoi. Tapi ditinggal. Kalau saudara mengalaminya, pasti marah dan kecewa. Tapi apa yang terjadi ? Terjadi kecelakaan dengan pesawat Sukhoi itu. Siapa yang paling bersyukur atas peristiwa itu ? Pasti orang yang tertinggal itu kan. Jangan marah dulu pada Tuhan. Pelajari segala sesuatu yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita. Ada seorang perempuan bersaksi. Ia hanya lulusan kelas 3 SD. Ia disembuhkan Tuhan dari kanker. Saya diberkati oleh ceritanya. Ia bilang tidak menyalahkan Tuhan kena kanker. Ia turut andil. Ia dilangkahi adiknya menikah duluan. Tapi mamanya tidak kasih. Akhirnya ia dikenalin dengan seorang pria dan dipaksa menikah oleh mamanya. Suaminya sangat tidak baik. Dari pernikahan itu ia punya anak 1, tidak punya dubur. 5 tahun kemudian ia hamil lagi. Ia dituduh suaminya hamil oleh laki-laki lain. Ia aborsi anaknya. 6 bulan kemudian ia aborsi anak lagi karena tidak diakui anaknya. Setelah ia kenal Tuhan ia sadar berdosa karena membunuh paling sedikit 3 anaknya. Setelah ia ikut Tuhan justru ia divonis kanker stadium 4. Tapi ia tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia bertobat, minta ampun pada Tuhan. Di dalam kesederhanaannya, ia mengalami mujizat demi mujizat dari Tuhan.

Kita juga harus belajar mengapa Tuhan mengijinkan kita mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan dalam hidup kita ? Untuk melembutkan dan merendahkan hati kita. Banyak orang kalau tidak terpuruk, tidak akan mengandalkan Tuhan. Kita harus menanti-nantikan Tuhan. Tadi Pak Niko bilang kalau kita berbahasa Roh, kita akan mendapat kekuatan. Tidak bertindak sendiri. Menantikan pertolongan yang indah pada waktunya Tuhan. Biasanya ayat ini di kartu undangan. Di hari pernikahan memang indah, tapi orang tidak tahu prosesnya sebelum menikah. Dulu keluarga saya tidak setuju dengan suami saya karena kulitnya hitam. Banyak tantangan. Tidak mudah. Ketika menikah, Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Jangan mengutip ayat sepotong-sepotong. Ayat b berkata tetapi manusia tidak dapat memahami pekerjaan Allah. Seperti yang Ayub alami. Banyak orang mau berkatnya, tapi tidak mau mengalami prosesnya. Waktu saya pelayanan di tanggal 21 April, saya ditemani oleh seorang ibu berumur 70 tahun. Dia orang Batak. Dia tanya saya mengapa dadanya suka deg-degan. Dan kadang-kadang nafasnya hilang. Saya bilang tidak tahu. Saya tanya dia sudah ke dokter belum ? Dia bilang sudah. Kata dokter setelah diperiksa tidak apa-apa. Tapi saya tanya Roh Kudus sebetulnya ibu itu sakit apa, Tuhan bilang ia seorang yang sering takut dan khawatir. Ketika saya tanya dia ternyata benar.

Waktu muda ia bekerja keras. Ia punya rumah kontrakan, tanah, 10 mobil. Tapi suaminya selingkuh. Dalam waktu 5 tahun sebelumnya semua hartanya habis. Rumah terakhir yang ia tempati sampai harus ia kontrak dari yang membeli rumahnya. Ia bilang ia tidak tenang. Saya bilang makan minum ibu tidak kekurangan kan. Belajar mengucap syukur. Ia bilang bagaimana anak-anak saya ? Saya bilang tiap anak ada berkatnya masing-masing. Banyak orang terobsesi kaya, segala cara dihalalkan, seperti anggota DPR. Mereka makan uang rakyat, padahal gajinya sudah besar. Manusia sering kali tidak puas. Firman Tuhan katakan , asal ada makanan, cukuplah. Tidak mau cari Tuhan. Terus kerja. Kalau Tuhan tidak memberkati, angkat sendok pun kita tidak bisa. Belajar, kalau kita hidup, andalkan Tuhan. Jangan jadi orang tua bodoh yang terus menumpuk harta demi masa depan anak-anaknya. Selama anak kita masih tanggungan kita, itu tanggung jawab kita, tapi jangan sampai tidak punya waktu untuk Tuhan karena ambisi kita.

Di dalam Ul 18: 17 : Kalau kamu memperolehnya jangan katakan karena engkau, itu karena Tuhan. Seperti Eunike dan Louis jangan mewariskan harta dan kepintaran. Itu bisa lenyap. Didiklah anak kita dalam takut akan Tuhan. Didiklah imannya. Saudara boleh minta, tapi kalau saudara tutup jalan saudara, tidak akan bisa. Sebaliknya walaupun saudara sederhana, kalau dipromosikan Tuhan, siapa yang akan merendahkan kita. Tuhan bekerja menurut waktuNya , bukan waktu kita. Terkadang kita terlambat memahami jalan pikiran Tuhan.Padahal ada ayatnya Ia punya rancangan penuh harapan atas kita. Karena itu jangan curiga dan marah kepada Tuhan. Ayub juga berpegang terus pada janji Tuhan. Waktunya Tuhan bukan waktunya manusia. Tuhan tidak pernah terlalu cepat dan tidak pernah terlambat.

Seperti apa cara Tuhan menolong kita ? Dikatakan orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru seperti rajawali. Kita bisa belajar dari burung. Manusia kalau mau pintar, harus belajar dari siapa saja. Saya juga belajar dari sopir saya. Saya tanya sopir saya apa sih buku-buku tebal yang dibaca anak-anak muda yang sedang nongkrong di atas motor ? Sopir saya namanya Marwan. Dia bilang itu namanya grup mata elang. Mereka kerja tidak dibayar. Mereka buka buku berisi nomor-nomor motor yang tidak bayar kredit motor. Mereka hafalkan nomor motor sambil melihat motor-motor yang lewat. Mereka tidak digaji, tapi dapat komisi besar kalau berhasil menangkap motor-motor itu. Kita belajar dari pembantu kita. Kadang-kadang kita juga belajar dari orang yang pintar.

Kita sekarang belajar dari rajawali. Bagaimana ia mendapat kekuatannya ? Ia termasuk burung yang unik karena bisa meremajakan kekuatannya. Saya percaya manusia tidak persis sama dengan burung rajawali. Kalau makin tua, paruhnya makin bengkok, semakin sulit ia makan. Tidak tajam lagi. Karena itu supaya ia tetap fit dan bisa makan dengan baik, ia harus pergi naik ke atas gunung, di tempat yang paling tinggi, supaya tidak bisa dilihat orang. Ia asah paruhnya ke batu cadas sampai ujung-ujungnya copot. Nanti akan tumbuh yang baru dan berbentuk seperti yang ia inginkan. Kuku-kukunya juga bengkok, sulit mencengkram mangsanya. Makanya ia gosok-gosok kukunya di batu cadas supaya copot, dipendekkan lagi, dikikir dengan batu cadas dan akhirnya berbentuk seperti keinginannya. Ia juga mencabut bulu-bulunya yang tua sampai maaf, seperti ayam telanjang. Karena itu ia melakukannya di atas gunung selama berbulan-bulan sambil berjemur sinar matahari. Ia tahu sinar matahari sangat baik buat dia. Setelah semuanya diremajakan, ia mengobati matanya. Makin tua, makin berselaput. Setiap hari ia menatap matahari, supaya matanya tajam kembali. Kalau anda ingin mata anda tajam, tatap matahari ketika baru terbit.

Kita baca Pengkhotbah 11:7 : Terang itu menyenangkan, melihat matahari itu baik bagi mata. Jadi saudara tidak perlu minum vitamin D berbotol-botol. Cukup lihat matahari, itu baik buat kesehatan. Biarpun bilang mata saya sipit, mata saya tetap awas. Maka setelah proses sekian lama, dari merontokkan paruh, kuku, bulu, ini dikenal sebagai retreat. Artinya mengundurkan diri sendiri dari kesibukan dunia untuk memikirkan perkara-perkara rohani. Saudara jangan cuma pikirkan biayanya, pikirkan berkatnya. Jangan hitung-hitungan untuk perkara rohani. Tidak sebanding dengan pemulihan dari Tuhan. Sebentar lagi ada HMC. Saya kagum dengan 2.500 orang asing yang datang ke Indonesia untuk perkara rohani. Orang Indonesia paling pelit untuk perkara rohani. Lebih banyak untuk kepentingan diri sendiri. Kita dicharge ketika retreat. Masalah kita masih ada setelah pulang, tapi kita tidak takut lagi. Kita percaya yang sulit itu adalah bagian Tuhan. Berjalan tidak menjadi lelah, berlari tidak menjadi lesu. Anak saya laki-laki kuliah dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore. Pulang Cuma ganti baju, langsung pergi basket. Pulangnya langsung main futsal. Tapi ia bilang ia tidak lelah. Kalau orang tua makan kebanyakan saja sudah lelah. Anak saya kalau makan nambah terus. Tidak ada lelahnya. Maklum ia masih masa pertumbuhan. Kita masa istirahat. Tapi kita bisa mendapat kekuatan baru kalau kita menanti-nantikan Tuhan.


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter