KOTBAH


Pdt Yusak Zefanya: Tetap Setia

Ibadah 1 -2, 22 Juli 2012

Selamat pagi bapak ibu yang dikasihi Tuhan. Saya undang kita berdiri. Kita baca bersama-sama dari Wahyu 2 : 10 bagian b : “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. “ Puji Tuhan. Terima kasih. Silahkan duduk. Saudara sebuah ayat yang begitu menarik : hendaklah engkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Kata setia sangat dirindukan semua orang. Suami rindu punya istri yang setia. Seorang istri rindu punya suami yang setia.

Bulan lalu saya pelayanan di gunung sahari. Saya bawakan firman tentang kesetiaan. Saya bilang seorang istri rindu punya suami yang setia. Ada seorang ibu yang menangis sepanjang khotbah. Selesai khotbah gembalanya bilang, kasihan ini ibu. Suaminya lagi main gila. Jadi ketika mendengar khotbah seorang ibu rindu punya suami yang setia, dia menangis. Orang tua rindu punya anak-anak yang setia. Seorang bos di kantor rindu punya bawahan yang setia. Kita rindu punya keluarga yang setia. Dan saya percaya Tuhan rindu punya jemaat yang setia. Tuhan rindu punya kesetiaan saudara. Kesetiaan itu bukan 1 tahun, 2 tahun, tapi sampai mati. Dan Aku akan mengaruniakan mahkota kehidupan. Mahkota itu bukan seperti yang kita bayangkan, seperti pakai topi. Ada kristal-kristalnya. Tapi saya percaya mahkota yang dimaksud adalah satu penghargaan yang luar biasa dari Tuhan untuk kita. Satu penghargaan yang utuh dari Tuhan melihat anak-anakNya setia sampai mati.

Setia mudah diucapkan, tapi tidak mudah dilakukan. Tapi kerinduan Tuhan pagi ini, hendaklah engkau setia. Kita rindu punya keluarga yang setia. Tuhan rindu engkau setia. Dalam bahasa Ibrani kata setia ditulis Pistos : artinya dapat dipercaya. Dalam bahasa Indonesia di dalam kamus bahasa Indonesia, kata setia artinya berpegang teguh pada perjanjian biarpun berat tugas yang dilaksanakan, ia tetap setia pada janji yang dikrarkan. Sekalipun ada hujan, ia tetap melaksanakan janjinya. Berpegang teguh, dapat dipercaya. Yang jadi pertanyaan pagi ini, dapatkah kita dikategorikan sebagai orang-orang yang dapat dipercaya, yang berpegang teguh kepada janji kita?

Kita sering berjanji kepada Tuhan lewat lagu-lagu pujian kita. Kenyataannya kita banyak bohong. Kita sering lalai, cuek terhadap janji kita. Bila kita renungkan kasih setia Tuhan , Tuhan setia pada kita, tapi sering kali kita tidak setia. Pistos artinya berpegang teguh pada janji. Bukan sekedar pujian, bukan sekedar lagu, tapi betul-betul kita praktekkan dalam hidup kita sehari-hari. Kita menjadi orang-orang yang dapat dipercaya, orang-orang yang setia. Kita akan meraih mahkota kehidupan, suatu penghargaan yang luar biasa. Mahkota Tuhan sediakan bagi kita, rumah Tuhan sediakan bagi kita. Kalau kita baca Yohanes 14: 27 : Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Dalam rumah Bapaku ada banyak tempat. Tuhan sediakan mahkota bagi kita. Di dalam rumah Tuhan ada banyak tempat bagi orang-orang yang setia kepadaNya.

Waktu saya ke China, sempat ke Temple of Heaven, di sana ada 9.999 kamar, kalau saudara tanya tour leader atau orang di sana mengapa cuma 9.999 bukan digenapi jadi 10.000 kamar. Mereka bilang 10.000 cuma di Nirwana. Di sorga. Saya bilang sedikit sekali. Kita tidak kebagian tempat. Tapi Tuhan bilang dalam rumah BapaKu ada banyak tempat buat orang-orang yang setia. Saksi Yehovah bilang cuma 144.000 orang yang masuk Surga. Mengapa saya tidak ikut Saksi Yehovah ? Tidak kebagian tempat. Sedangkan saya selalu ingin menjadi orang yang setia pada Tuhan. Saya percaya mahkota Tuhan siapkan bagi kita asalkan kita setia pada Tuhan, walau apa pun yang terjadi. Apa pun tantangannya, apa pun masalahnya. Setia bukan hanya di mulut, tapi dalam hidup keseharian kita. Kita menjadi orang-orang yang dapat dipercaya, mahkota Tuhan siapkan bagi kita.

Seperti yang tadi saya bilang, setia mudah diucapkan, tapi sulit dipraktekkan. Ada banyak hal yang membuat kita tersandung dengan kata setia. Yang pertama yang bisa membuat kita tersandung : penderitaan. Coba kita buka Habakuk 3: 17-19 : Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN , beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Apa pun yang terjadi, penderitaan tidak membuat kesetiaan kita kepada Tuhan luntur. Tetap Setia. Penderitaan harus tetap membuat kita setia sekalipun pohon anggur tidak berbuah, pohon ara tidak berbunga. Ada banyak orang meninggalkan Tuhan karena penderitaan. Mengapa saya ikut Tuhan, semakin saya ditekan ? Saya ikut Tuhan, semakin banyak masalah ? Mengapa saya ikut Tuhan, saya dikucilkan ? Mengapa saya ikut Tuhan malah difitnah ? Mengapa ? Mengapa ? Pertanyaan sering muncul di hati kita dan membuat kita enggan untuk setia. Rasanya sudahlah ke gereja percuma, tidak dapat apa-apa. Yang ada malah penderitaan demi penderitaan, kesulitan demi kesulitan, masalah demi masalah. Lebih baik saya undur. Penderitaan bisa membuat kita undur dari Tuhan. Tapi kita mau belajar pagi ini belajar setia, apa pun yang terjadi. Takkan undur setapak jua kalau Tuhan Yesus ada di hati kita, kalau kita renungkan kebaikan-kebaikan Tuhan. Kita hitung berkat-berkat Tuhan. Takkan kita undur walaupun banyak masalah. Setapak jua pun kita tidak undur. Kita menjadi anak-anak Tuhan yang setia. Meski angin ribut menimpa.

Kita buka Roma 8 : 35-37 : Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang ? Seperti ada tertulis : “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus ? Penindasan, aniaya, ketelanjangan, ancaman, fitnahan, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Paulus orang yang dulu benci kekristenan, yang dulu mengejar-ngejar orang Kristen, orang yang menganiaya, yang kasih keputusan untuk membunuh Stefanus, ketika kenal Tuhan Yesus secara pribadi , dia berubah secara ekstrim, dia dianiaya, dipasung, dipenjara, disesah, mengalami banyak hal yang pahit di dalam kehidupannya. Tapi ia bilang apa ? Siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?

Saya percaya kita tidak pernah mengalami penderitaan seperti Rasul Paulus. Dirajam, hampir mati, diseret ke luar kota, dipenjara, dipasung, dipukul, diludahi, penderitaan yang luar biasa. Tapi karena ia sudah berjumpa secara pribadi dengan Tuhan Yesus, pernyataan ini bisa keluar dari Rasul Paulus. Siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus ? Tidak ada. Aniaya tidak membuat kita undur. Ketelanjangan, kesusahan tidak membuat kita ciut. Kita setia. Saya tidak tahu pagi ini saudara ada dalam penderitaan apa, bentuknya seperti apa, tapi kita mau setia. Siapa yang dapat memisahkan kita ? Tidak ada. Kalau kita sudah mengenal Tuhan Yesus secara pribadi, kita tahu Tuhan kita baik, dahsyat, luar biasa , mengapa kita harus undur dari Tuhan ? Mengapa kita berlaku tidak setia ? Kita harus setia.

Penderitaaan jangan membuat kita undur. Semakin setia. Kita buka 2 Korintus 4: 16-18 : Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Sebab kami tidak tawar hati. Banyak anak Tuhan yang tawar hati. Baru punya persoalan kecil sudah tawar hati, undur dari Tuhan, undur dari pelayanan. Kita cuek dengan pekerjaan Tuhan, kita masa bodoh. Kita belajar hari ini dari nabi Habakuk, dari Rasul Paulus. Kami tidak tawar hati sebab penderitaan ringan yang sekarang ini. Rasul Paulus menganalogikan penderitaannya ringan, padahal kalau kita baca kisah Rasul Paulus penderitaannya berat. Ia tidak memperhatikan yang kelihatan karena yang kelihatan adalah sementara. Ia memperhatikan yang tak kelihatan karena yang tak kelihatan adalah kekal. Kita baru merasa tersinggung, konflik sedikit, tersinggung sedikit sudah bilang kok rasanya begini ikut Tuhan. Baru punya persoalan kecil, kita buat jadi besar. Saudara perhatikan gambar Bapa. Masalah kecil menjadi besar, membuat kekuatan kita menjadi kecil. Kalau kita sedang berada dalam penderitaan, persoalan, datang kepada Tuhan, berlaku setia, meskipun angin ribut menimpa hidup. Setia, maka Tuhan akan mengaruniakan kepada kita mahkota kehidupan. Saudara mau setia ? Setia sampai Tuhan datang.

Hal yang kedua : berkat, juga bisa membuat kita tidak setia. Banyak berkat kita berlaku tidak setia. Di jemaat tempat kami melayani, dulu ada seorang ibu. Ia bilang kalau Tuhan kasih saya mobil, saya akan setia melayani Tuhan. Ia cuma punya motor. Kalau Tuhan berkati saya akan setia. Tidak lama kemudian ia punya mobil. Minggu pertama dan kedua ada di gereja. Tapi minggu-minggu berikutnya hilang. Ia piknik terus dengan mobil baru, jalan-jalan terus, Puncak, Ancol, kolam renang ombak. Hilang. Tidak lama, karena istrinya ini terlalu mengharapkan berkat, ia lacurkan dirinya dengan bosnya. Jadi ternyata berkat mobil itu dari bosnya. Ada udang di balik batu. Hancurlah rumah tangganya. Sampai sekarang suami ke mana, istri ke mana. Anak-anak berantakan. Kasihan, akibat terlalu mengharapkan berkat.

Berkat kadang-kadang membuat kita tidak setia. Kita lupa siapa yang memberikan berkat. Padahal Tuhan bilang apa yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, apa yang tidak pernah dilihat mata, diberikan oleh Allah bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Biarlah berkat tidak membuat kita lupa diri. Mari kita buka Ulangan 6 : 10-12 : Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu--kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.

Perhatikan ayat ini , berkat yang luar biasa. Artinya berkat Tuhan melimpah tanpa kita susah payah mencarinya, menggali sumur. Tetapi saudara renungkan apa yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, yang tidak pernah kita dengar, itu yang Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Ayat yang kita baca, betapa besarnya berkat yang Tuhan sediakan bagi orang Israel. Tuhan kita baik. Luar biasa berkatnya bagi kita sehingga kita masih hidup, berdiri seperti ini, bernyanyi buat Tuhan, balas kesetiaan Tuhan pada kita. Saya berjemaat, melayani Tuhan hampir 30 tahun. Ada jemaat yang merayap, setia. Cepat naik. Sudah naik, dia bilang maaf saya mau pindah ke gereja. Saya tidak level bergereja di sini, di sini banyak orang susah. Dalam hati saya, dia lupa diri. Ia membeda-bedakan orang. Untung Tuhan kita tidak pernah membeda-bedakan kita karena Ia cinta kita.

Biarlah berkat membuat kita semakin setia pada Tuhan. Jangan lupa diri. Apa yang kita punya hanya sementara. Saudara mau setia ? Saya percaya kita adalah orang-orang yang diberkati Tuhan. Kalau kita masih punya jantung dan paru-paru yang sehat, masih diberi kekuatan, mari melayani Tuhan dengan setia. Jangan kita melayani untuk dilihat oleh orang lain, untuk dilihat hamba Tuhan. Mari kita melayani untuk Tuhan. Kadang-kadang berkat membuat kita lupa pada Tuhan, lupa diri.

Hal yang ke-3 : kita buka Yakobus 4: 4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah ? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. Hai kamu orang-orang yang tidak setia. Hal yang ketiga, persahabatan dengan dunia bisa membuat kita tidak setia. 1 Korintus 15:33 : Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Kita harus tahu di mana anak kita bergaul, kita harus tahu di mana suami kita bergaul, di mana istri kita bergaul. Hati-hati. Persahabatan dengan dunia artinya kita hidup mendengar apa kata dunia, apa kata orang. Mereka bilang ngapain ke gereja. Enakan jalan-jalan ke mall, kongkow-kongkow, makan. Persahabatan dengan dunia bisa merusak hubungan kita dengan Tuhan.

Mazmur 1 : 1-3 dikatakan : Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik , yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN , dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam . Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air , yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Kalau kita salah bergaul, kita bersahabat dengan dunia, buahnya akan asam. Buahnya busuk, tidak enak dinikmati.

Tetapi ketika kita diam, kita bergaul dengan Tuhan, kita merenungkan taurat Tuhan setiap hari, kita tidak salah gaul, hasilnya luar biasa. Jangan kita bergaul dengan orang yang salah, jangan kita duduk dengan pencemooh, jangan kita menurut nasihat orang fasik yang menghujat nama Tuhan. Dengarkan firman Allah, renungkan firman Tuhan. Hati-hati dengan pergaulan, banyak hal yang negatif. Jangan dengar apa kata orang, dengar apa kata Tuhan. Seperti Petrus ketika melihat kepada Tuhan Yesus, ia bisa berjalan di atas air. Tapi ketika fokusnya bukan pada Yesus, ia takut, imannya mulai goyah, Petrus bimbang dan hampir tenggelam. Kalau Tuhan suruh jalan , jangan tengok kanan dan kiri, fokus pada Tuhan. Jangan dengar apa kata orang.

Ada seorang ayah dan anak membawa seekor keledai, masuk ke dalam satu kampung. Anaknya duduk di atas keledai. Orang kampung bilang dasar anak tidak tahu diri. Bapaknya disuruh menuntun keledai. Lalu papanya bilang betul juga nak, turunlah, papa yang naik. Ketika masuk kampung lain orang bilang dasar bapak tidak tahu diri, masa anaknya disuruh menuntun keledai. Akhirnya bapak ini pikir betul juga. Lalu ia berdua anaknya naik keledai itu. Tapi masuk kampung lain, mereka dibilang kejam, tidak punya pri kebinatangan. Masa keledai muda dinaiki 2 orang. Lalu bapak itu pikir benar juga, kasihan keledai itu. Lalu mereka berdua turun dan menuntun keledai itu. Tapi di kampung lain mereka dikatakan, dasar bodoh, ada fasilitas, tidak dipakai. Itulah kalau selalu mendengar apa kata orang.

Kita harus hidup apa kata Tuhan, apa kata firmanNya. Kalau Tuhan bilang setia, setialah. Siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus ? Tidak ada. Kita lebih dari pemenang. Ada 2 ekor katak dan masuk ke dalam lubang yang dalam. Mereke punya masalah yang besar. Teman-temannya di atas bilang syukurin, kamu pasti mati, tidak bisa keluar. Seekor katak berpikir iyalah pasti demikian. Sedangkan katak yang lain berhasil keluar dan dipuji teman-temannya. Ternyata setelah diselidiki, katak ini tuli. Jadi ketika ia lihat teman-temannya bersorak, ia kira ia sedang disemangati dan berhasil naik ke atas. Kadang-kadang sebagai anak Tuhan kita perlu tuli terhadap apa kata dunia. Katak ini tuli, salah dengar, sehingga bersemangat untuk naik. Sedangkan katak satunya langsung lemas dan tidak berhasil ke atas. Tuhan janjikan kita jadi pemenang. Hiduplah apa kata firman. Janji-janji dan penyertaanNya luar biasa dalam hidup kita. Kita mampu lakukan aktivitas kita setiap hari.

Jadilah orang-orang yang setia, tetap setia, apa pun yang berlaku dalam hidup kita. Bukan 1 tahun, bukan 5 tahun. Jangan sampai di akhir hidup kita kita bilang Tuhan, Tuhan bukankah aku sudah bernubuat demi namaMu ? Sudah menyembuhkan orang demi namaMu ? Dan Tuhan bilang Enyahlah, Aku tidak kenal engkau. Pergilah engkau hai sekalian pembuat kejahatan. Jangan sampai kita alami hal yang demikian. Kita rindu Tuhan bilang marilah masuk hai hambaKu yang setia, makan sehidangan dengan Aku. Luar biasa. Ada satu penghargaan yang luar biasa dari Tuhan.

Saya percaya sebentar lagi Tuhan hapuskan air mata kita. Penderitaan kita dihapuskan oleh Tuhan ketika jumpa denganNya. Ada pertemuan di udara, pertemuan yang manis, pertemuan buat anak-anak Tuhan yang setia. Saya rindu dalam hidup ini kita harus punya target. 2 tahun lagi kita mau jadi apa. 5 tahun ke depan mau jadi apa, seperti apa. Tetapi target utama kita, suatu hari kelak kita berjumpa dengan Tuhan Yesus, penjunan kita, belahan jiwa kita, luar biasa. Ada pertemuan dengan Tuhan bagi anak-anak Tuhan yang setia. Marilah kita setia. Penderitaan, berkat jangan menjauhkan kita dari Tuhan. Perhatikan pergaulanmu. Jangan membuat kita tidak setia.


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter