KOTBAH


Pdt. Jaliaman Sinaga, Jadilah Sempurna

Ibadah 1, 21 Oktober 2011

     Shalom. Tiap hari Minggu bawalah alkitab. Kalau kita bisa hidup itu semata-mata karena anugrah Tuhan. Hidup kita ada dalam tangan Tuhan, dalam rencana Tuhan. Tuhan mau kita diproses dalam hidup kita sehingga naik ke level yang lebih tinggi dan semakin berkenan kepada Tuhan. Suami istri yang saling mencintai wajahnya semakin mirip. Demikian pula kalau kita mengasihi Tuhan karakter kita semakin menyerupai Tuhan Yesus. Kita buka Matius 5: 43-48 : Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

    Tuhan Yesus berkata karena itu haruslah kamu sempurna, there for you shall be perfect. Kita suka membuat pembelaan bagi diri kita, tidak mungkin kita sempurna. Kita saja yang penuh kekurangan tidak akan menyuruh anak kita yang baru berumur 5 tahun membawa beban 50 kg karena kita tahu kemampuan mereka. Apalagi Tuhan. Kalau Tuhan Yesus katakan haruslah kita sempurna, maka pasti bisa. Kita harus mempunyai tekad, kerinduan, karena itu perintah Tuhan. Dulu keluarga saya miskin sekali. Saya tidak pakai alas kaki sampai kelas 6 SD. Rumah kami rumah gedek, pakai lampu teplok. Tapi Tuhan ubahkan kehidupan kami. Waktu papa saya meninggal, dia bisa tinggalkan kami warisan milyaran. Dia tidak sekolah tapi diberkati Tuhan karena punya kemauan untuk maju. Tahun 1956 kami pindah dari hutan ke kota besar, di Medan. Kita harus punya kerinduan untuk menjadi suami, istri, anak yang sempurna. Jangan batasi kuasa Tuhan dalam pikiran dan kehidupan kita. Jangan katakan tidak mungkin. Terimalah firman Tuhan bagi diri kita sendiri. Harus punya kerinduan, termasuk untuk menikah, sekolah S3, dsb. Kita harus punya program dalam hidup kita, pakai pikiran kita, tapi dalam kontrol Roh Kudus. Minta tuntunan Roh Kudus.
    Kita harus sempurna seperti Bapa di Sorga adalah sempurna. There for you shall be perfect just like your father in heaven is perfect. Bapa kita di sorga sudah sempurna, tapi kita masih dalam proses. Tuhan memakai orang-orang yang paling sering kita temui dalam hidup kita untuk memproses kita, yaitu keluarga kita, suami atau istri kita. Menikah dengan orang yang kita cintai, bukan berarti tanpa konflik, masalah dan perbedaan. Tapi bagaimana mengolah perbedaan itu, itulah seni dalam pernikahan. Waktu pacaran, yang dicari adalah persamaan, bahkan dijadikan barometer kalau jodoh. Menikah adalah manajemen perbedaan, manajemen ketidakcocokan. Biasanya orang kalau belum menikah masih fotocopy, kalau sudah menikah keluar aslinya. Saya sudah menikah selama 27 tahun, memiliki 3 anak, perempuan semuanya. Saya tidak suka matematika, tapi latar belakang istri saya dari matematika. Saya sadar sekarang perbedaan itu berguna,  kalau anak saya tanya soal matematika, saya bilang tanya mamanya.
    Tuhan bilang kalau marah jangan disimpan sampai matahari terbenam. Jadi kami punya prinsip begini: kecewa, sakit hati mampir boleh, nginep jangan, apalagi ngekos, mahal harganya. Kalau kita simpan sakit hati dan kecewa, akan menimbulkan penyakit, masuk ICU, mahal harganya. Kalau kita punya anak, kita diproses Tuhan lewat anak kita. Kalau sudah punya menantu, kita diproses lewat mantu kita, anggap mantu kita sebagai anak kita sendiri. Kita buka Matius 19: 21 : Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu  dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ini cerita kepada pemuda yang kaya. Alkitab katakan ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Karena itu orang kaya sukar masuk kerajaan sorga, lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum. Lubang jarum di sini maksudnya bukan lubang jarum yang sebenarnya, melainkan pintu kecil yang biasa dilewati unta kalau pintu gerbang Yerusalem sudah ditutup ketika malam. Unta itu harus merunduk kalau mau lewat pintu itu. Demikian pula orang kaya itu seharusnya merunduk, merendahkan diri di hadapan Tuhan. Tuhan tidak melarang kita kaya, tapi tidak boleh terikat pada kekayaan.
    Boleh punya hobby, tapi tidak boleh terikat. Kalau kita terlalu sering nonton TV, apalagi sinetron Indonesia, pikiran kita tidak bekerja. Tuhan sudah tetapkan lewat para pemimpin kita, prioritas kita yang terutama adalah Tuhan, baru keluarga, ketiga pelayanan/ pekerjaan. Jangan dibalik. Ora et Labora, doa dulu baru bekerja. Kita harus melepaskan diri kita dari segala ikatan. Coba jujur, hitung lebih banyak mana waktu yang kita habiskan, di depan TV, atau di dalam hadirat Tuhan. Sekarang ini kalau ada suami istri yang masuk ke restoran dan bersikap mesra, dikira selingkuhan. Ada lack of intimacy antara suami istri. Jangan sibuk sendiri-sendiri. Dulu waktu pacaran saling memandang. Ada eye language, body language. Di antara suami istri bagus kalau mengembangkan bahasa tubuh yang tidak dimengerti oleh orang lain.

    Yakobus 3:2 : Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya,   ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Untuk menjadi sempurna pertama kita tidak boleh terikat apa pun. Kedua: tidak bersalah dalam perkataan. Artinya kita harus belajar berkata benar kalau benar, salah kalau salah. Terimalah keberadaan kita, baik pria maupun wanita. Anak saya semuanya perempuan, ini yang terbaik dari Tuhan karena anak perempuan lebih dekat dengan keluarga. Wanita itu luar biasa, lebih tahan banting, lebih tahan menderita. Tiap bulan sudah latihan datang bulan, belum lagi kalau sudah pra menopause, tubuhnya mengalami perubahan hormonal. Coba kalau suami yang mati muda, istri pasti tidak mau menikah lagi. Tapi kalau istri yang meninggal, suami pasti kawin lagi. Wanita lebih kuat menderita, karena itu Tuhan jadikan penolong. Banggalah menjadi seorang wanita. Jujurlah pada suami kalau masih ada uang, jangan bilang sudah habis. Suami juga jujur kalau dapat bonus. Pakailah cincin kawin anda kalau sudah menikah. Ini bukan sekedar tanda, ini mengingatkan kita kalau kita mau selingkuh, di dalamnya ada nama istri kita. Untuk menjadi sempurna kita harus rela diproses Tuhan lewat orang-orang terdekat kita. 2 tanda kesempurnaan : tidak terikat apa pun dan tidak bersalah dalam perkataan. Kalau kita punya kerinduan, Tuhan pasti menolong kita.


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter