KOTBAH


Jangan Suam-Suam Kuku

Pdm. Alex Leo
Ibadah Siang 21 September 2008
Bacaan Firman: Wahyu 3 : 14 - 22

Teguran Tuhan buat jemaat di Laodikia adalah karena mereka sudah menjadi suam-suam kuku. Laodikia dalam sejarah merupakan sebuah daerah yang strategis untuk perdagangan, oleh karena itu penduduk di sana sangatlah kaya. Hal ini yang dikatakan dalam Wahyu 3 : 17, bahwa mereka mengatakan dirinya kaya, namun sesungguhnya di mata Tuhan, mereka adalah orang-orang yang melarat, karena rohani mereka suam-suam kuku.

Panas berbicara mengenai keadaan rohani yang bergairah dengan Tuhan. Dingin berbicara mengenai keadaan orang yang sama sekali tidak mengenal Tuhan. Suam ada di tengah-tengahnya, yaitu orang yang masih ke gereja, ataupun juga masih baca Alkitab, namun sudah tidak lagi bergairah. Orang yang mengalami ke-suam-an bisa siapa saja, bahkan hamba Tuhan atau Pendeta sekalipun.

Di mana letak berbahayanya orang yang suam ? Orang yang dingin, dia sadar bahwa dirinya sedang menuju kebinasaan, namun orang yang suam, dia masih sadar bahwa dirinya akan ke Surga, namun sesungguhnya ia akan dimuntahkan oleh Tuhan. Dimuntahkan berbicara mengenai terhilang dari Tuhan.

Ciri-ciri orang suam:

1.) Ayat 17.
     Kata kuncinya adalah : "dan aku tidak kekurangan apa-apa".
     Pada awal kita terima Yesus, biasanya selalu ada pemicunya, yaitu adanya
     kebutuhan yang tidak bisa terpenuhi. Misalnya kita sedang mengalami kesulitan
     ekonomi, ataupun sakit penyakit, dsb. Setelah kita menerima Yesus, kebutuhan
     kita sedikit demi sedikit mulai dipenuhi. Hal inilah yang mengakibatkan kita bisa
     berada pada satu titik di mana kita merasa kita sudah tidak kekurangan apa-apa.
     Dalam aplikasi sehari-hari, orang yang suam dapat dilihat dari pengorbanannya
     untuk mencari Tuhan sudah semakin berkurang. Contoh : ke gereja telat, saat
     teduh berantakan. Sebagai gambaran, jika kita sedang sakit, dan kita
     mengetahui ada 1 dokter yang sangat ahli, maka kita rela ngantri berjam-jam
     hanya untuk ketemu dokter tersebut. Demikian juga halnya dengan pengorbanan
     kita untuk bertemu Tuhan. Orang yang suam akan menjadikan segala
     sesuatunya adalah kewajiban dan bukan kebutuhan.

2.) Kita sulit merasakan hadirat Tuhan ataupun jamahan Tuhan.
     Misalnya tubuh jasmani kita sedang sakit, maka kita tidak akan selera makan,
     kecuali makanan yang dapat benar-benar menggugah selera makan kita.
     Demikian juga pada saat rohani kita sedang sakit, kita tidak dapat menerima
     berkat dari setiap firman yang disampaikan, kecuali hanya firman-firman yang
     menurut kita 'bermutu' dan disampaikan oleh hamba Tuhan yang 'bermutu' juga.
     Maksud Paulus mengatakan bahwa ada makanan rohani yang merupakan susu
     dan ada juga yang makanan keras, adalah sebagai berikut : susu adalah firman
     yang disampaikan adalah firman yang mudah untuk dilakukan. Misalnya firman
     yang mengatakan bahwa kalau kita memberi untuk Tuhan maka Tuhan akan
     membalasnya 100 kali lipat. Sementara makanan yang keras adalah firman
     Tuhan yang untuk melakukannya butuh pengorbanan yang sungguh-sungguh.
     Misalnya kita diminta untuk memberi bagi Tuhan, meskipun kita tidak
     mendapatkan apa-apa sebagai balasannya.

3.) Mulai sulit mengucap syukur.
     Kita sering bersungut-sungut dan menjadi marah.
     Contoh : Pada waktu bangsa Israel dibawa keluar dari Mesir ke padang gurun,
     Tuhan memberikan manna sorgawi. Pada awalnya mereka sangat bersukacita dan
     tidak bisa bercerita mengenai kebaikan dan kebesaran Tuhan. Tetapi ketika hal 
     tersebut berlangsung terus-menerus selama 40 tahun, bangsa Israel mulai bosan
     dan bersungut-sungut kepada Tuhan.

Bagaimana supaya kita tidak suam ?

Ayat 18 : "maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat."

Emas yang telah dimurnikan berbicara mengenai hati yang murni.
Pakaian putih berbicara mengenai kekudusan.
Minyak berbicara mengenai mata rohani yang terus terbuka untuk bisa melihat betapa baiknya Tuhan dan betapa besar kasih karunia-Nya bagi kita.

Tuhan menantang jemaat di Laodikia yang mengaku dirinya kaya, untuk dapat membeli semuanya itu dari Tuhan, yaitu hati yang murni, kekudusan dan juga kekayaan. Sesungguhnya kekayaan orang Laodikia tidak akan sanggup untuk membeli semuanya itu, karena semua yang mereka miliki diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan. Demikian juga halnya diri kita, haruslah kita sadar bahwa segala yang kita miliki saat ini hanyalah kasih karunia dari Tuhan. Oleh karena itu minta kepada Tuhan minyak untuk melumas mata rohani kita, agar senantiasa dapat melihat bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang kita miliki adalah kasih karunia Tuhan. Pakailah standard kekudusannya Tuhan. Sesungguhnya kita masih jauh dari apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita.
(Rc)


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter