PESAN GEMBALA


Law of Diminishing Return


Pdm Agustinus Puspawiguna - 8 Juni 2008

Ibadah Ulang Tahun GBI Tanjung Duren: 8 Juni 2008
Bacaan Firman: Matius 25:34-40, Kis 20:35b

Dunia semakin modern, pengetahuan semakin tinggi, segala peralatan semakin canggih. Seharusnya otomatis keadaan dunia jadi semakin baik, seharusnya kemiskinan berkurang, kelaparan, kekurangan pangan dapat diatasi, dunia semakin aman dan tenteram, tetapi kenyataan berbicara sebaliknya. Walaupun dunia semakin canggih dan modern, dunia justru bertambah kacau, perang di mana-mana, harga-harga naik, kemiskinan bertambah, kelaparan masih terus terjadi di mana-mana.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Makin modern, makin pintar manusia, makin canggih peralatan yang dipunyai, semua itu digunakan untuk satu perkara yang setiap manusia kejar yaitu kepuasan dan kebahagiaan. Setiap orang dengan segala yang dia punyai berusaha mendapatkan sebanyak mungkin segala sesuatu yang dapat ia konsumsi atau pakai untuk dirinya. Kebanyakan orang mengira dengan semakin banyak yang bisa kita konsumsi maka hidup kita akan dipuaskan dan bahagia.

Akibatnya semua orang menjadi semakin serakah dan tamak, sehingga walaupun terjadi kemajuan, pertambahan produksi, produktivitas naik, dunia tetap selalu berkekurangan. Yang lebih menyedihkan, apa yang setiap orang kejar yaitu kepuasan dan kebahagiaan tak kunjung tercapai walaupun sudah menumpuk segala sesuatu secara berlebihan.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena kita lupa bahwa di dunia ini selalu berlaku hukum alam dan ada satu hukum yang sering kita abaikan yaitu: "Law of Diminishing Return" yaitu hukum tentang tingkat pengembalian yang menyusut. Segala sesuatu dalam kehidupan kita seperti sebuah proses yang memiliki input dan output. Hukum ini berkata apabila hanya satu jenis input yang terus diperbesar maka pada titik tertentu outputnya akan mengecil. Outputnya adalah kepuasan dan kebahagiaan hidup, sedangkan salah satu inoutnya adalah konsumsi atau pemakaian pribadi kita. Ternyata dengan mudah dibuktikan bahwa banyaknya konsumsi seringkali bertolak belakang dengan tingkat kepuasan yang diperoleh.

Sebagai contoh, belum lama ini seorang tokoh dunia model terkenal, Yves Saint Laurent meninggal dunia. Walaupun terkenal dan kaya raya, tetapi sepanjang hidupnya dia menjadi orang yang selalu merasa kesepian, tertekan dan mengalami depresi yang sangat berat sampai akhir hayatnya. Contoh berikutnya, Christina Onassis, sejak kecil hidup dimanjakan dengan segala sesuatu, dia selalu mendapat apapun yang dunia bisa sediakan. Tetapi dia tidak mengalami arti bahagia apalagi dipuaskan, sehingga karena frustasi dia menjadi pecandu narkoba dan akhirnya mati bunuh diri.

Bila kita sedang sangat kehausan, pasti kita sangat bersukacita saat disediakan segelas air kelapa muda. Saat kita minum satu gelas, kita pasti terpuaskan, mungkin ada yang masih ingin minum gelas kedua baru merasa puas. Tetapi bila dipaksa untuk meminum gelas ketiga, keempat, kelima dan seterusnya, maka bukan lagi kepuasan yang kita peroleh. Kita mungkin akhirnya merasa muak dengan kelapa muda itu.

Jadi apa yang harus dilakukan? Jangan hanya menaikkan satu unsur input, tetapi mulai menaikkan input yang lain. Input yang lain itu tidak lain adalah memberi untuk orang lain. Saat hal ini dilakukan maka tingkat kepuasan dan kebahagiaan yang diterima juga akan terus naik.

Hal ini sesuai dengan Firman Tuhan yang berkata: "Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kis 20:35b).

Setiap kita mempunyai batas kemampuan untuk konsumsi. Hal tersebut sering kali tidak ada kolerasinya dengan besarnya penerimaan. Bila kita bisa menangkap limit yang beri dan hidup di dalamnya, maka justru kita akan mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan yang maksimal di dalam hidup kita.

Kita tidak mungkin mengkonsumsi 10 gelas kelapa muda sekaligus. Yang terjadi bila kita paksakan adalah rasa mual atau bahkan mungkin sakit perut. Sebgai sebuah contoh, saya kenal seseorang yang menolak orang yang mau memberi dirinya sebuah mobil Mercedes New Eyes baru. Dia cuma berkata, saya tidak siap dengan mobil ini. Bila saya memakai mobil ini, saya akan berubah. Orang ini tahu akan limit yang dia bisa terima, konsumsi dan pakai.

Dulu saya sendiri tidak begitu memahami bagaimana banyak orang yang bersaksi bahwa mereka memberikan hampir 90% dari yang mereka dapat. Bagaimana mungkin? Ternyata jawabannya sederhana, yaitu seperti di atas. Mereka adalah orang-orang yang sudah mengerti berapa kapasitas konsumsi mereka, saat mereka mulai dapat lebih, tingkat konsumsi itu tidak mereka ubah. Seharusnya kita bisa mengerti berapa benih yang boleh dimakan dan berapa yang harus ditabur kembali.

Berilah hidupmu bagi orang lain, maka hidup kita sendiri akan dipuaskan. Kita akan berbahagia. Hanya ada satu cara kita bisa mengatasi Law of Diminishing Return, jangan hidup untuk dirimu sendiri tetapi berikan hidupmu berdampak buat sekitarmu. Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Hidup yang sia-sia adalah kita hidup tetapi tidak berdampak!


"Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." - Matius 25:34-40


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter