RENUNGAN


PERUBAHAN PARADIGMA - SUPLEMEN COOL - Minggu #2 Agustus 2011


“Apa yang dinyatakan halal oleh ALLAH, tidak boleh engkau nyatakan haram.” ~ Kisah Para Rasul 10:15

Salah satu hal yang luar biasa dari pencurahan ROH KUDUS adalah terjadinya perubahan paradigma.  Ketika ROH KUDUS dicurahkan ke atas para Rasul maka hal-hal yang luarbiasa terjadi.  Sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan sebelumnya terjadi: pertobatan dan pencurahan ROH KUDUS kepada seorang non-Yahudi, yaitu kepada seorang perwira Romawi bernama Kornelius dan seisi rumahnya (bacalah seluruh Kisah Para Rasul 10 untuk kisah lengkapnya).  Bagi orang-orang Yahudi, adalah sesuatu yang najis untuk bahkan datang dan bercakap-cakap di rumah seorang kafir, apalagi bangsa Romawi/penjajah mereka.  Tetapi rasul Petrus menerima pernyataan TUHAN untuk datang dan mengajar Kornelius, karena bahkan Kornelius sendiri sebelumnya sudah menerima perwahyuan dari TUHAN.  Bahkan yang luarbiasa, ketika Petrus mengajar, Kornelius dan semua yang mendengarkan menerima baptisan ROH KUDUS.  Itulah sebabnya Petrus tidak melihat alasan untuk tidak membaptis Kornelius dan seisi rumahnya karena jelas ALLAH berkenan kepadanya.  Tejadi suatu perubahan paradigma ketika ROH ALLAH bergerak.

Kita harus mengerti bahwa TUHAN yang kita sembah adalah TUHAN yang dinamik.  DIA bergerak dengan cara yang kreatif dan selalu baru.  Jika kita mengerti dengan baik hal ini maka dapat mengikuti apa yang IA kehendaki pada masa kita.  Daud menjadi orang dikenan TUHAN karena Daud mengikuti apa yang menjadi kehendak TUHAN pada masanya.  Kehendak TUHAN pada masa Daud berbeda dengan masa Salomo, kehendak TUHAN pada Elia berbeda dengan masa Petrus dan tentunya TUHAN memiliki kehendak yang berbeda masa kita.  Inilah pengertian perubahan paradigma.

Perubahan paradigma mengandung pengertian:

1. Berpikir dengan cara pikir TUHAN dan bukan dengan cara pikir kita (Lukas 24:45).

Cara berpikir manusia seringkali berbeda dengan cara pikir TUHAN.  Cara pikir manusia seringkali berpola pada bahwa kalau itu baik, pasti itu benar.  Sedangkan cara pikir TUHAN adalah bahwa yang baik belum tentu benar dan yang benar pasti baik.  Bagi orang-orang Yahudi pada masa Petrus, adalah baik untuk membenci dan menghindar dari orang-orang Romawi karena mereka adalah penjajah, dan prajurit-prajurit merekalah yang menyalibkan YESUS.  Tetapi TUHAN berpikir lain: kasih yang IA tunjukkan adalah untuk menyelamatkan dunia dan itu artinya termasuk orang-orang Romawi.  TUHAN meneguhkan sikapnya ini dengan memberikan baptisan ROH KUDUS kepada Kornelius sehingga Petrus diyakinkan bahwa kasih-karunia ALLAH berlaku untuk semua orang, termasuk kepada bangsa Romawi yang terkenal bengis.  Inilah pesan Firman TUHAN sepanjang Alkitab: kasihNya yang luar biasa kepada semua orang.  Itulah sebabnya kita perlu meminta ALLAH untuk terus membuka pikiran kita sehingga kita mengerti apa yang menjadi kehendakNya dan apa yang hendak IA sampaikan melalui FrmanNya.

Diskusi:

Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang mungkin dahulu kasar dan tidak ramah kepada anda, tetapi sekarang terjadi perubahan yang dramatis dari sikapnya dan bahkan barangkali sekarang ia aktif melayani ALLAH ?  Bagaimana dengan sikap anda sendiri kepadanya, apakah anda percaya akan perubahan ini atau tetap skeptis terhadap dirinya ?

 
2. Memandang situasi dengan cara pandang ALLAH dan bukan dengan cara pandang kita (1 Samuel 17:40-47).

Manusia cenderung memandang segala situasi – terutama yang sulit – dengan pandangan yang terbatas, sesuai dengan kemampuannya.  Tetapi ALLAH memandang dengan situasi yang berbeda.  Standar kelengkapan prajurit dalam berperang adalah pedang, lembing dan tombak.  Tetapi ketika Daud maju menghadapi Goliat, TUHAN memberikan hikmat kepadanya untuk hanya membawa umban dan lima buah batu.  Goliat-pun merasa terhina dengan cara perang Daud.  Namun satu hal yang Daud percayai: kalau TUHAN yang menyuruh dan menghendaki maka pasti tidak ada yang salah.  Apapun dapat digunakan oleh TUHAN untuk menyatakan kekuasaanNya yang tidak terbatas.  Manusia memandang peperangan di hidupnya harus dilawan dengan kekuatannya yang maksimal yang sebenarnya terbatas, tetapi ALLAH memandang peperangan sebagai sesuatu yang biasa karena kekuatan-NYA tidak terbatas.  Daud memandang situasi peperangan dengan sudut pandang ALLAH, maka Goliat-pun dikalahkan.  Pandanglah situasi hidupmu dengan cara pandang ALLAH, maka Goliat-goliat apapun yang muncul dalam hidupmu dapat dikalahkan. Amin!
 
 
3. Melakukan dengan cara ALLAH dan bukan caranya kita (2 Raja 5:10-15).

Kita senang melakukan berbagai hal dengan cara yang kita terbiasa, tetapi seringkali TUHAN meminta kita untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.  Naaman belajar mengenai hal ini.  Ketika ia menemui nabi Elisa untuk berdoa demi kesembuhannya, ternyata nabi TUHAN ini malah tidak mau menemuinya dan bahkan menyuruh Naaman untuk mandi 7 kali di sungai Yordan.  Naaman tersinggung karena ia mengira setidaknya Elisa setidaknya berdoa dan menumpangkan tangan (cara yang lazim dan umum) tetapi ini malah menyuruhnya melakukan hal yang benar-benar berbeda.  Namun untunglah Naaman menuruti dan akibatnya dia sembuh.

TUHAN tidak kehabisan cara untuk menunjukkan bahwa kuasa, kasih dan mujizat-Nya masih ada.  Bagian kita adalah percaya dan melakukan sesuai dengan IA kehendaki.  Jangan batasi cara ALLAH dengan cara pikir, sudut pandang dan kebiasaan kita melakukan berbagai cara.  ALLAH yang kita sembah adalah ALLAH yang tidak terbatas dan tidak ada cara yang mustahil bagi DIA untuk menunjukkan kasih, kuasa dan mujizat-Nya bagi kita.  Ketika kita membaca Firman TUHAN, mendengarkan pengajaran/khotbah dan menemukan perwahyuan, dan pada saat itu kita mendapatkan hikmat TUHAN untuk melakukan dengan cara yang berbeda, janganlah kita keraskan hati atau menolak karena merasa “tidak nyaman”, tetapi percaya dan mulai bertindak menurut petunjuknya.  Percayalah, karena TUHAN tidak akan pernah mempermalukan anak-anakNya. Amin. [CS/1011]

Sumber: http://hmministry.com/2011/08/1743/SUPLEMEN_COOL___AUG__2.GBI


Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter