SERBA-SERBI


Couples Community - Mendampingi Pasangan di Masa-Masa Sulit


Tanjung Duren - 27 Oktober 2009. 
 
Terkadang kita merasa
Tak ada jalan keluar
Tak ada lagi waktu terlambat sudah
Tuhan tak pernah berdusta
Dia selalu pegang janjiNya
Bagi orang percaya
Mujizat nyata....

Lantunan lagu Edward Chen membuka pertemuan pasutri (Couples Community) pada malam itu. Pak Agustinus (PA) dan Ci Meiko (CM) hadir untuk menjadi narasumber sharing pasutri yang mengambil tema ‘Mendampingi Pasangan di Masa-Masa Sulit’ dengan host Ko Andi Auric dan Ci Debby. Obrolan santai, ceplas-ceplos dan penuh canda mengurai kisah mereka. Berikut laporannya…

Berdampingan dan mendampingi pasangan di masa sulit itu dua masa berbeda.
Tetapi kuncinya adalah: kekuatan dari Tuhan

(HOST): Pernah gak Ci Meiko (CM) mendampingi Pak Agus (PA) di masa sulit?

(CM): Pernah, waktu tiba2 saya pecah air ketubannya. Wah, 
saya  langsung dibawa ke dokter dan ternyata operasi cesarnya baru dijadwalkan 6jam kemudian. Bukan cuma saya (CM)  yang stress, malah Pak Agus (PA) yang stress juga bolak-balik kamar mandi.
 
Sikap Pak Agus (PA)  yang terus-terusan menunggui saya(CM) di pinggir ranjang sambil memegangi tangan saya memberi support besar buat saya.
Kemudian waktu saya mengalami vertigo-kepala rasanya muter dan muntah, rasanya seperti naik roll coaster yang gak henti-henti menghuyung kita.
Baru-baru ini serangan vertigo saya terjadi waktu kami sekeluarga (Pak Agus, Ci Meiko dan Sasha) berlibur di Hongkong.
 
Saat itu kami sedang berada di Subway (kereta bawah tanah), tiba-tiba vertigo CM kumat lagi.
 
‘Wah, kita kan lagi di bawah tanah, naik ke atas masi jauh lagi. Apa Agus kuat gendong saya? Belum cari taxi, belum mindahin dari taxi ke hotel?? Aduh…gimana ini’ pikiran yang melintas ini tak ayal lagi membuat vertigo CM semakin hebat.
(Vertigo semakin hebat bila dipicu tingkat stress penderita)
 
Puji Tuhan, petugas di subway bersedia meminjamkan kursi roda mekanik yang bisa menolong CM naik ke lift lebih mudah.
 
Sampai di hotel, PA menunggui saya di pinggir ranjang. Karena spring bed yang dipakai hotel mudah bergoyang, sedangkan getaran sedikit saja bisa membuat saya mual dan pusing sekali. Semalam-malaman PA bersimpuh menunggui saya di pinggir ranjang.
 
Setelah muntah-muntah terus, tentunya perut CM kosong. Lalu bagaimana kalo CM mau pipis? (CM saat itu susah sekali untuk bisa duduk tegak, sedikit bergerak saja sudah memusingkan)
 
PA sempat keluar hotel jam 12malam, kemudian kembali dengan pampers dan biscuit bayi yang mudah dikunyah.
 
Jadi PA juga yang menunggui saya semalam-malaman, memasangkan pampers, menghancurkan biscuit-satu demi satu disuapkan ke mulut saya.
 
Demikian sabar dan telaten, padahal saya tau, PA tipe orang yang gak sabaran. 
Saat itu saya mulai melihat kasih sayang PA sebagai suami.
 
Dalam proses vertigo ini membuat saya melihat banyak hal dalam pernikahan kami.
Saya adalah pribadi kolerik, yang mandiri, biasa jadi boss, menikah dengan PA yang juga kolerik, biasa jadi boss juga. Sejujurnya hal tunduk pada suami ini hal yang sangat sulit buat saya. Tetapi, penyakit vertigo mengajarkan banyak hal tentang penundukan diri buat saya. Kalau dulu saya biasa ke mana-mana sendiri, sekarang saya takut, saya perlu ditemanin PA atau minimal satu orang.

(HOST): Ada gak pengalaman CM mendampingi suami?

(CM):  Ada, waktu PA tangannya patah, jatuh di rumah maminya.
Setelah rontgen dan konsultasi dengan dokter tulang, PA dirujuk ke rumah sakit untuk operasi membenahi bentuk tulang yang keluar jalur. 
 
Semalam-malaman saya menemani PA di rumah sakit, sambil sibuk berpikir,’ kalo PA mau pipis atau bangun kan harus dibantu/ digendong orang yg lebih kuat.
kalo PA yang besar gitu gimana? Siapa yang kuat memapah PA?
Ternyata setelah keluar RS, setelah operasi, dengan nyantainya PA mengajak makan di restoran. 

(HOST):  Waktu itu, CM pernah terlintas ada ketakutan barangkali kondisi PA begini atau begitu (yang lebih buruk) ? Bagaimana cara mengatasi ketakutan/ pikiran ngatif yang menyerang saat itu?

(CM):  Waktu itu saya berpikir ‘untung jatuhnya tidak membentur kepalanya, tapi kena tangannya yang menopang badannya. Dan secara ajaib kami bisa dipertemukan dengan Dr Nicholas-dokter tulang  yang cinta Tuhan,terkenal bagus (juga susah dicari) yang dengan senang hati mau diajak konsultasi sebelum operasi.
Banyak keajaiban terjadi di sini.

(HOST):  Selain masalah kesehatan, ada masalah 'sulit’ lainnya yang bisa diceritakan?

(CM):   Kayaknya masalah penyakit vertigo ini yang paling sulit, 
Bayangkan saja, kita yang sebagai orang normal serasa jadi cacat.. Sedikit bergoyang saja, kepala langsng muter dan kacau sekali.

(HOST):  Selain itu, ada gak kisah lain CM mendampingi pa agus dalam masalah keuangan?

(CM): Waktu tahun ’98, masa krisis moneter, di mana tabungan kita langsung anjlok, nilainya jadi tinggal ¼! Krisis itu buruk sekali, apalagi buat dunia properti, sampai PA harus menutup bisnisnya. Buat seorang laki-laki, hal ini sangat mengguncang, meskipun dari luar PA keliatannya tenang-tenang saja. Tapi saya pun mengimbangi dengan bersikap lebih tau diri, gak neko-neko minta macam-macam seperti biasanya.
Misalnya gak minta liburan, gak menuntut makan yang mahal-mahal.
Karena bagi lelaki, berhenti bekerja, mulai melangkah ke hal baru (pindah ke usaha kue maminya) ini adalah hal sulit. Sebagai istri saya perlu menyesuaikan diri.

(HOST):  Pernah gak CM merasa sulit dimengerti PA?

(CM): Pasti pernah, karena perempuan dan laki-laki itu berbeda
Perempuan perlu sentuhan, dibelai, merasa disayang, sedangkan pria lebih perlu dimengerti, dihargai.
 
Apalagi saya yang berasal dari keluarga hangat yang penuh dengan touch, belaian, cium, sebaliknya PA berasal dari keluarga yang dingin; ga ada touch, cium, ga pernah digendong, apalagi diucapin selamat ulang taun.
 
Sebelum sakit vertigo, saya selalu menuntut dicium minimal sehari dua kali , pagi dan malam. Tapi dengan vertigo ini, saya mulai belajar menerima PA apa adanya.
Anehnya, waktu saya mulai berubah, berhenti menuntut, malah PA ikut-ikutan berubah, lebih rajin mencium dan lebih sayang.
 
Buat para perempuan, baik juga kita mengambil cermin untuk mengintropeksi diri, apa yang salah pada kita sampai suami kita jadi begitu?
Apakah kita , istri, sudah lebih baik sampai harus menuntut suami bagus?

(HOST): Sekarang, PA , gimana tipsnya bisa bertahan mendampingi CM dengan sabar dan tekun sampai sekarang?

(PA): Semuanya kasih karunia,Tuhan yang memampukan, menaruh kasih buat CM.
Apalagi tadinya saya termasuk orang yang gak sabaran, malah bisa sabar dan telaten merawat CM
 
Selain itu, dibantu karakter juga. 
 
Saya punya sikap, bila kita mau menang menghadapi masalah-  jangan tanya KENAPA pada Tuhan, tapi jalanin saja karena saya percaya bila seorang menikah-dua orang itu sudah dipersatukan. Sama seperti menyatu dalam satu tubuh, apa kalo tangan kita cacat, lalu kita potong tangan kita?
 
Itu part of my life yg harus kita jalankan

(HOST): Selain itu?

(CM): Segala sesuatu mendatangkan kebaikan. 
Dari sakit ini, PA juga belajar hati bapa. PA tidak pernah mengalami kasih dari papanya, itu yang membuat PA susah menunjukkan hati bapa
 
Sejak vertigo, Sasha jadi dekat dengan papanya, karena dia yang ajarin sasha, tanya PR, sekolah yang biasanya saya lakukan.

(PA): Banyak hal yang berubah dari CM. sejak menikah ada gap besar dalam kerohanian kami berdua. Saya sangat menggebu2 dalam pelayanan, sedang CM cuek saja. 
 
Tapi sejak vertigo, kerohanian CM jadi lebih pesat, apalagi CM juga termasuk org yang konsisten dan disiplin.

(HOST): Pak Agus sharing dong tentang mendampingi pasangan di masa sulit.

(PA):  Yang sulit kan CM,  tapi jangan pernah kita berpikir, ‘gara-gara lu yang sakit- gue jadi keseret ribet'  karena kalo kita sudah menikah kan berarti dua sudah jadi satu daging.
 
Jadi, jangan pernah ada kata-kata seperti itu.

(CM) : Juga mendampingi dalam membesarkan anak
PA berasal dari keluarga yang tidak hangat, kaku, tidak ada aturan, apa saja boleh!
Saya dari keluarga yang hangat, banyak larangan, aturan, ini gak boleh, itu gak boleh.
 
Ini bisa menimbulkan konflik.
 
Contoh: waktu Sasha sakit, saya langsung proteksi pake baju tebal, gak boleh makan gorengan, minum es, cuma boleh makan sop- supaya cepat sembuh.
Sedang PA malah berpikir justru waktu sakit, gak usah pake baju tebal-tebal, biarkan saja terbuka- buat melatih ketahanan tubuh. Buktinya PA sampai sekarang jarang sakit.
 
Makan apa saja pun boleh, yang penting kan masih nafsu makan-daripada ga bisa makan sama sekali?
 
Sampai satu saat Sasha sakit, dibolehkan makan ayam, karena ternyata makan ayam/ tidak, tetep aja sakit, karena di sekolah virusnya tular-tularan dari teman-teman sekolahnya.
 
Lama-lama saya belajar mengikuti pola PA yang ‘apa-apa boleh’.

Perbedaan itu sampai sekarang masih ada, di rumah CM yang senang membuka jendela lebar-lebar, begitu PA lewat- ditutup lagi jendelanya PA yang nyalain ac- supaya dingin, CM yang matiin ac-karena takut dingin, nanti CM menyalakan  lampu, PA yang matikan lampu. 
 
Begitu terus terjadi, tapi bedanya sekarang tidak pakai rebut lagi.

(PA):  Saya semakin percaya kalo Tuhan itu gak pernah salah menyatukan, pasti ada satu rencana, meskipun saat ini gak ada yang keliatan baik, tapi ujungnya pasti baik.

(Audience): PA kan susah ngungkapin sayang, trus pacarannya dulu gimana?

(CM): Waktu kami ketemu, kami sama-sama sudah cukup umur, sudah jenuh putus pacaran, jadi masa pacarannya diisi dengan diskusi. Kami membahas segala sesuatu, membahas segala sesuatu – untuk menentukan take it or leave it.
 
Pacarannya pun hanya di restoran, yang bagusnya komunikasi kami jadi lancar dan fair.
 
Meskipun segala sesuatu sudah dibahas, tetap saja kami mengalami bentrok di beberapa tahun-tahun awal pernikahan kami, karena dua-duanya sama-sama keras.

(Audience): Pernah gak ngalamin cape pake 'topeng' kayaknya kita sudah apa adanya, tapi respon pasangan lain dan berbeda dari sewaktu pacaran?

(CM): Pasti pernah, cowok yang manis kok sekarang berkata2 kasar? Sedang cowoknya bingung , perasaan saya ngomong biasa aja- malah dibilang kasar oleh pasangan?
 
Di sinilah kita perlu Yesus
 
Dulu, sehari sebelum saya ulang taun, PA sampai seharian ga kerja, muter-muter nyari kado. Saya sampai berbunga2 memikirkan apa hadiahnya?
Malamnya PA datang dengan bunga mawar yang ternyata dibeli di seberang kantornya. Itu saja kadonya!
Jadi seharian gak kerja cuma dapat mawar yang dibeli di sebelah kantornya?

(PA) : Saya memang paling bingung beli kado buat CM, dibelikan apa saja akhirnya 
cuma disimpen gak dipake, lama-lama gak kasi kado lagi, langsung mentahnya saja.

(Audience): Gimana klo pasangan tau apa yang dibuat suami itu salah,trus bagaimana cara menanggapinya? Sabar saja atau gimana?

(CM): Didoakan saja, inilah pentingnya kuasa doa. Nanti Tuhan yang ubahkan. percuma juga kalo kita yang ngomong, bisa jadi dia bisa ga terima perkataan kita.

Dulu saya punya sobat dekat dengan latar belakang dulu pernah samen leven dan sekarang jadi istri kedua. Tapi setelah menikah, PA minta saya menjauhi sobat ini- karena latar belakangnya. Bagaimanapun persahabatan itu bisa sampai bertukar pikiran dan itu juga mempengaruhi jiwa.
 
Tapi kami sama-sama tau aturan main, pasangan berhak membatasi teman main, meskipun memberi kebebasan dalam bergaul
Kami berusaha saling jujur apa adanya 

(Audience): Bagaimana bila suami ada pelayanan, di saat yang sama istri membutuhkan kehadiran suami?

(PA): Hal ini sudah kita bicarakan sebelum menikah, bahwa pelayanan lebih diprioritaskan. Tapi bila CM sedang kumat vertigonya, padahal saya ada doa pengerja- saya tinggalkan CM bersama minimal seorang pembantu.

(Audience): Tips dr PA cara menenangkan istri saat istri labil, kuatir, tanpa membuat istri jadi tergantung pada suami?

(CM): Saya termasuk istri gampang kuatir, contoh zaman virus sars- dimana temen-temen  lagi ribut beli masker. Tapi PA dengan santai bilang' ngapain beli masker, kena ya kena aja- kenapa gak serahin saja pada Tuhan?'
Lama-lama saya pikir PA bener juga, ya saya ikutin saja pola pikirnya.

Kalo istri kuatir saat pra menstruasi? 
 
Sabar aja atau lebih banyak menyediakan waktu buat istri, sering menelpon- supaya istri lebih merasa aman.

(Audience) : Gimana tips mendidik anak abg?
 
(CM) : Ada kasus , anak yang waktu kecil manis sekali, begitu menginjak masa abg jadi memberontak dan banyak maunya. Maminya uda geregetan sementara papanya cenderung plegmatis dan sabar....... mulu. Tapi anehnya kadang anaknya malah lebih hormat dan mau dihandle oleh papanya yang sabar dan terus mengasihinya..
 
Kalau mau didik anak, didiklah semasa ia kecil. Begitu menginjak ABG, pola didiknya tidak bisa disiplin lagi, tapi berubah mengikuti zaman.
 
Orang tua harus masuk sebagai teman- jadi teman curhat.
 
Untuk anak lelaki, pendekatan dengan suami mungkin lebih mudah karena suami pun pernah ABG


KESIMPULAN
  • Memang pernikahan perlu kasih karunia Tuhan, diperkuat dengan mezbah keluarga yang   perlu terus-terus dibangun.
  • Pergesekan di antara pasangan muda itu hal biasa yang harus dilalui, jadi jangan kecil hati- selesaikan saja.

Oke, sekian talk show malam ini. Sampai ketemu bulan depan. (SA)



Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter



Yang lain di Serba-Serbi: