TENTANG KAMI
Sejarah Singkat GBI Tanjung Duren
Pada tahun 1998, Bapak Pdm. Agustinus Puspawiguna yang saat itu menjabat
sebagai koordinator Ibadah Raya Siang dan Sore di GBI Grogol diutus untuk
membuka sebuah gereja baru di daerah Tanjung Duren oleh Gembala GBI Grogol,
almarhum Bpk Pdt. Adrianto. Pada saat itu salah satu visi dari Bapak Gembala
Pembina GBI Jl. Gatot Subroto yang masih bernama Bethany adalah melakukan
penginjilan dengan membuka gereja-gerja baru. Bersama-sama dengan istrinya,
Meiko, Pdp. Djunaedi dan istrinya, Farida, serta sekitar 7 - 8 Family Altar
(FA) di daerah Tanjung Duren yang ada di bawah penggembalaan GBI Grogol saat
itu, Pdm. Agustinus Puspawiguna mulai merintis pelayanan GBI Tanjung Duren.
Pada mulanya ibadah pertama akan diadakan pada tanggal 18 Mei 1998, namun
karena keadaan Jakarta pada saat itu tidak kondusif pasca kerusuhan tanggal
12 -1 3 Mei 1998 maka ibadah perdana ditunda dua minggu sesudahnya.
Meskipun saat ini GBI Tanjung Duren telah menempati dan memiliki gedung yang
dinamakan "Plaza The Way" di Jl. Tanjung Duren Barat bersama-sama dengan
Departemen Pengajaran GBI Jl. Gatot Subroto, namun tempat tersebut bukanlah
tempat yang pertama dipilih oleh almarhum Pdt Adrianto. Beliau sempat
memilih Hotel Banian Bulevar yang terletak di Jl. Tanjung Duren Raya, namun
karena satu dan lain hal, maka pihak hotel membatalkan dan memberikan tempat
kepada pihak penyewa lain. Pada hari yang sama, Pdm Agustinus Puspawiguna
segera berkeliling Tanjung Duren dan mencari tempat untuk ibadah jemaat GBI
Tanjung Duren dan mendapatkan sebuah ruangan di lantai 2 supermarket Metro
di Jl. Tanjung Duren Barat. Di tempat inilah kemudian GBI Tanjung Duren
untuk pertama kalinya mengadakan ibadah pada tanggal 8 Juni 1998 dengan
total jemaat dan para undangan sebanyak 100 orang.
Dengan fasilitas yang sangat minim saat itu dan keadaan Jakarta yang sempat
mencekam, para pengerja dan jemaat mula-mula GBI Tanjung Duren tidak kendor
dalam melayani Tuhan, bahkan dengan bernyala-nyala dan penuh semangat mereka
memberikan waktu, tenaga dan uang untuk membangun rumah Tuhan. Pada
tahun-tahun awal, gereja hanya memiliki satu ruangan ibadah saja dan sebuah
gudang sempit di belakang panggung berukuran 0,75 x 4 meter yang dijadikan
ruang doa. Dapat dibayangkan betapa sempit dan panasnya ketika berdoa. Para
pendoa dan pengerja terpaksa harus duduk berjajar seperti rangkaian gerbong
kereta api untuk berdoa. Di ruang ibadah, kursi-kursi yang digunakan masih
disewa dan setiap hari Sabtu, para pengerja datang untuk membersihkan
ruangan, kursi dan berbagai macam peralatan untuk ibadah keesokan harinya.
Demikianlah semuanya dikerjakan dengan penuh semangat dan sukacita.
Setelah sepuluh tahun berlalu, dalam keadaan yang jauh lebih baik dengan
segala kelimpahan yang Tuhan berikan kepada GBI Tanjung Duren, diharapkan
agar semangat awal yang ada pada waktu berdiri tetap menyala bahkan lebih
lagi untuk penuaian besar di depan kita.
